Monday, November 20, 2017

MARKETING COMMUNICATION TOOLS II



Pemasaran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem ekonomi di masyarakat modern. Dewasa ini, pemasaran dengan menggunakan strategi promosi sudah berkembang menjadi sistem komunikasi yang sangat penting tidak saja bagi produsen barang dan jasa, tetapi juga bagi para konsumennya. Kemampuan dan metode promosi dalam menyampaikan informasi kepada konsumen menjadikan hal tersebut sebagai hal yang penting dan berpengaruh terhadap keberhasilan pemasaran dan pembentukan brand suatu perusahaan. Beberapa perusahaan sampai saat ini masih ada yang beranggapan bahwa promosi yang paling efektif hanya dapat dilakukan dengan beriklan di media massa saja, anggapan tersebut menyebabkan fungsi promosi perusahaan-perusahaan itu umumnya hanya didominasi dengan beriklan di media massa. Padahal iklan bukanlah satu-satunya alat yang dapat digunakan untuk melaksanakan kegiatan pemasaran. Selain iklan, ada unsur-unsur lain yang turut dikendalikan secara bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu, yakni harga, distribusi, pengemasan, penampilan produk, mutu, brand (merek).
A.    MARKETING COMMUNICATIONS 
Komunikasi pemasaran merupakan proses manajemen dimana sebuah organisasi dapat berkomunikasi dengan khalayaknya. Komunikasi pemasaran adalah proses manajemen suatu perusahaan untuk melakukan dialog kepada berbagai audiens perusahaan, dengan mengembangkan, menyampaikan, dan mengevaluasi serangkaian pesan kepada kelompok stakeholder yang teridentifikasi (Fill,c, 1999:12).
Komunikasi pemasaran adalah proses manajemen suatu perusahaan untuk melakukan dialog kepada berbagai audiens perusahaan, dengan mengembangkan, menyampaikan, dan mengevaluasi serangkaian pesan kepada kelompok stakeholder yang teridentifikasi. Komunikasi pemasaran merupakan proses yang dilakukan oleh perusahaan dalam mengkoordinasikan beberapa elemen promosi dan kegiatan pemasaran lainnya sehingga terjalin komunikasi dengan konsumen perusahaan (Belch,G E dan Belch,MA, 2004: 16).
Dengan menggunakan marketing communication tools yang tepat, perusahaan selaku komunikator dapat memperkenalkan serta memasarkan barang atau jasanya kepada konsumen selaku target marketnya.  Oleh karena itu, perencanaan dan pemilihan marketing communication tools menjadi penting sebab tools tersebut merupakan perantara komunikasi perusahaan dalam memasarkan dan mengenalkan barang atau jasa mereka. Marketing communication tools yang biasa digunakan oleh pemasaran di antaranya adalah advertising, sales promotion, public relations, personal selling, interactive marketing, dan direct marketing. Untuk mendukung masing-masing instrumen mencapai tujuan komunikasi pemasaran, pengelola pemasaran harus benar-benar memikirkan pesan komunikasi dan media komunikasi pemasaran untuk menyampaikan pesan tersebut.

B.     MARKETING COMMUNICATION TOOLS II
Menerapkan pemasaran berbasis misi untuk mendongkrak nilai tambah. Misi perusahaan diwujudkan dengan program pemasaran dan kehumasan simpatik. Ada empat cara: aktivitas terfokus, program yang relevan dengan bidang usaha perusahaan, dirancang untuk jangka panjang dan bersifat persuasif. Seorang praktisi periklanan dari Amerika, Tom Brannan menyatakan ukuran untuk dapat dikatakan memiliki komunikasi terpadu (integrated) secara penuh apabila kita sudah mengidentifikasi satu per satu pesan inti yang mengarahkan pada suatu ide kreatif besar dan dapat pula diimplementasikan pada segala bidang yang kita tekuni. Integrasi dapat dikatakan berhasil apabila model komunikasi dengan membangun citra melalui pesan inti yang sama pada berbagai media komunikasi dapat dengan mudah dimengerti kapanpun kita melihat dan mendengarnya (Brannan,Tom, 2004:1). Dalam kerangka umum IMC terdapat beberapa elemen yang dijadikan perangkat (tools), yakni: periklanan, promosi penjualan, penjualan personal, pemasaran langsung, humas. Elemen-elemen tersebut dipadukan dalam suatu tahapan strategi kreatif yang ditujukan untuk menyampaikan suatu pesan yang sama sehingga pesan yang disampaikan kepada konsumen dapat dilakukan dengan baik dan efektif. Adapun elemen-elemen tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Adversiting ( iklan )
2.      Sales Promotion ( promosi penjualan )
3.      Personal Selling
4.      Public Relations
5.      Direct Marketing

C.     STRATEGI SOFT SELLING
1. Grand Strategy, Strategy dan Tactics
Carl Botan (1992) mengungkapkan bahwa dalam dunia Public Relations sebuah strategi terdiri dari tiga konsep yaitu Grand Strategy, Strategy dan Tactics. Grand Strategy merupakan konsep utama yang menjadi dasar terbentuknya Strategy.  Strategy, membahas tentang level kampanye pembuatan keputusan, termasuk mengatur sumber daya dan argumen untuk melaksanakan Grand Strategy yang telah ditetapkan, sehingga strategi yang dilakukan oleh perusahaan selalu dibatasi oleh Grand Strategy.  Tactics, tahap ini berbicara tentang aktivitas spesifik yang dilakukan oleh perusahaan berdasarkan dari strategi yang sudah diterapkan dalam aktivitas yang dilakukan atau aspek teknis Public Relations.
2.Strategi  Marketing Communication
Dalam bukunya Marketing Communication (2005.331) Chris Fill menguraikan tentang Strategi Marketing Communication dalam tiga proses yang terkait dalam 3PS Strategi Marketing Communication sebagai berikut:
a)      Pull Strategies - To Influence end-user customer
Tahap ini merupakan proses penyampaian pesan dari perusahaan yang diarahkan langsung pada end-user customer atau target konsumen akhir. Hal tersebut bertujuan untuk menghasilkan peningkatan tingkat kesadaran, mengubah atau memperkuat sikap customer, mengurangi resiko yang timbul, mendorong keterlibatan, dan memicu motivasi dalam kelompok-kelompok sasaran. Untuk menjalankan Pull Strategies, dapat menggunakan pendekatan tradisional melalui pengiriman pesan dalam iklan media massa yang juga didukung oleh proses komunikasi dalam bentuk bellow the line. 
b)      Push Strategies - To influence marketing channel buyers
Push Strategy atau Strategi komunikasi pendorong ini berbicara tentang penyajian informasi yang diberikan oleh perusahaan untuk mendukung proses transaksi penjualan dan pembelian konsumennya
c)      Profile Strategies - To influence a range of stakeholders
Strategi ini menganggap sejauh mana perusahaan membutuhkan komunikasi dengan pelanggan (pull strategies) dan perantara saluran perdagangan (push strategies). Komunikasi digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pemangku kepentingan dan tujuan promosi perusahaan organisasi dikembangkan melalui apa yang disebut sebagai strategi profil, dengan tujuan utama yaitu Corporate Branding.
3.Brand
Brand merupakan kombinasi dari nama, istilah, tanda, simbol, atau desain, yang  dimaksudkan untuk mengidentifikasi suatu produk atau perusahaan  agar  membedakan mereka dari para kompetitor. Brand dikatakan lebih dari sekedar sebuah  produk karena sebuah brand memiliki dimensi yang membedakannya dengan produk lain yang dirancang sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan sama sehingga ada nilai lebih tersendiri yang akan diperoleh konsumen ketika mereka memilihnya. (Keller,2003:2).
Menurut American Marketing Communication (AMA), brand adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau kombinasi dari semuanya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikannya dari barang atau jasa pesaing. Namun brand bukanlah sekedar nama, istilah, tanda ataupun simbol saja, lebih dari itu brand merupakan sebuah ‘janji’ perusahaan yang secara konsisten memberikan gambaran, semangat, dan pelayanan pada konsumen. The American Marketing Associations mendifinisikan brand sebagai “a name, sign or symbol used to identify items orservices of the seller and to differentiate them from goods of competitors.” (Kotler,Philip dan Kevin Lane Keller,2006: 6).

D.SOFT SELL PROMOTION
Soft-selling adalah strategi pemasaran yang berupa penyampaian pesan yang sifatnya emosional. Strategi ini berupaya menciptakan respon yang didasarkan pada perilaku, mood, impian, perasaan dan daya tarik emosional. Soft-selling tidak langsung berdampak pada penjualan. Dalam praktik, soft-selling ini direpresentasikan dalam bentuk, Misal advertising/advertorial.Contoh:
Seluruh iklan TV, tujuannya adalah mengenalkan dan mengingatkan konsumen akan produk atau merek tertentu. Iklan TV memang tidak langsung berdampak penjualan, namun pesan yang disampaikan diharapkan dapat menyentuh emosional pemirsa yang pada gilirannya akan berdampak pada pembelian (penjualan di sisi perusahaan).
Advertorial sering kita jumpai di beberapa media TV, seperti tayangan tentang kegiatan dan keberhasilan Usaha Kecil Menengah yang buntut-buntutnya menyampaikan bahwa UKM yang bersangkutan mendapat permodalan dari Bank tertentu.
Juga cerita artis yang menderita sembelit atau kegemukan atau masuk angin, namun buntut-buntutnya acting minum obat-obatan dengan merek tertentu.
Prinsip dari soft selling adalah mempromosikan produk kita secara halus, tidak menyampaikan promosi secara langsung, dan tujuan dari soft selling adalah membangun hubungan yang nyaman dengan calon konsumen, syukur-syukur di lain kesempatan calon konsumen bisa menjadi konsumen kita. (Dikutip dari: JokoSusilo.com).Ada beragam cara soft selling di internet, beberapa diantaranya sebagai berikut.
1.      Melalui blog, yakni dengan membuat berbagai artikel yang menyentuh hati/menginspirasi orang lain, lalu di akhir artikel diselipkan sedikit promosi tentang produk yang kita jual.
2.      Melalui Twitter. Contohnya saya pernah melihat salah satu akun Twitter penerbit, yakni @BentangPustaka mempromosikan bukunya dengan cara membuat twit. Buku yang dipromosikan oleh akun Twitter tadi adalah buku berjudul Ngaku Gaul Kok Galau. Nah dalam mempromosikan buku tadi, @BentangPustaka memberikan beberapa twit tentang cara-cara terhindar dari galau. Di akhir twit yang dibuat @BentangPustaka akhirnya menyarankan followers-nya untuk langsung membaca buku Ngaku Gaul Kok Galau.
E.STRATEGI SOFT SELL PROMOTION KOMUNIKASI PEMASARAN
Strategi pemasaran soft selling pada dasarnya adalah proses berjualan yang tidak terlihat berjualan secara langsung. Cara yang digunakan oleh strategi ini sangat halus dan jauh dari kata-kata provokatif, sehingga memberikan sugesti secara bertahap dengan menanamkan rasa simpati dan suka antara pembeli dan website penjual. Keuntungan menggunakan strategi soft selling dibandingkan dengan hard selling adalah dapat menumbuhkan kepercayaan konsumen terhadap penjual, produk, dan dapat membangun transaksi jangka panjang. Strategi soft selling atau populer dengan teknik branding ini bertujuan untuk mendapatkan loyalitas konsumen terhadap produk yang ingin dijual.
Ciri-ciri strategi pemasaran soft selling adalah tidak ada kata-kata ajakan yang persuasif untuk membeli produk, melainkan berisi pesan-pesan yang edukatif. Informasi terkait produk juga disampaikan lebih detail, seperti apa manfaat menggunakan produk, bagaimana produk tersebut dibuat, apa yang melatarbelakangi pembuatannya, dan keunggulan produk tersebut dibanding produk lain. Lebih jauh lagi, strategi ini juga membentuk bonding antara penjual dan pembeli. Melalui informasi dan sapaan dari penjual, penjual berusaha membangun imej positif di mata konsumen.
Strategi soft selling lebih sering dijumpai di website, blog, atau media sosial seperti Facebook. Media ini menjadi sarana yang tepat bagi strategi soft selling karena penjual dapat menampilkan banyak artikel. Artikel-artikel berupa review produk bisa ditampilkan tanpa batasan waktu dan biaya dengan jangkauan target pasar yang luas.
Lalu, bagaimana caranya mengaplikasikan strategi soft selling pada website Anda? Sebelum menawarkan suatu produk, kita harus paham dahulu apa saja kebutuhan calon pembeli. Kita pelajari apa saja masalah calon pembeli dan kita bantu menyelesaikannya. Caranya adalah dengan memberikan edukasi. Misalnya, ada calon pembeli yang punya masalah dalam pengelolaan keuangan, maka kita berikan pengetahuan tentang pendidikan finansial. Setelah calon pembeli mendapat edukasi, barulah kita tawarkan produk keuangan yang kita jual.
Selain artikel edukasi terkait produk yang kita jual, kita bisa juga mengisi website dengan artikel tips/tutorial dengan tema-tema tertentu. Jika kita menggunakan website, maka kita akan terikat dengan jangkauan view. Semakin banyak orang melihat website kita maka semakin besar peluang website kita berada di halaman depan mesin pencari. Jika website Anda tetap bertahan di halaman pertama mesin pencari untuk beberapa kata kunci, maka Anda akan mendapatkan target pasar yang lebih luas.
Sampai saat ini, tidak ada strategi khusus dalam melakukan soft selling. Selama calon pembeli tertarik dengan hal yang kita lakukan, maka selama itu pula ada harapan bahwa mereka akan menjadi pembeli potensial. Hal ini membuat bermacam website dapat mengembangkan metode soft selling yang paling tepat dengan calon pembeli mereka. Salah satu contoh soft selling yang cukup unik tertuang pada pembukaan buku Likeable Social Media: How to Delight Your Customers, Create an Irresistible Brand yang ditulis oleh Dave Kerpen. Dalam buku ini, sang penulis bercerita bahwa suatu hari dia berlibur ke Las Vegas dan harus kecewa karena hotel terpopuler di sana membuat dia menunggu selama satu jam hanya untuk check in dan meneruskan liburannya.
Kekecewaan ini dituliskan melalui Twitternya dengan memention akun hotel tersebut. Yang menarik, balasan terhadap tweetnya justru datang dari akun hotel saingan yang membaca tweet tersebut. Dan bukannya beriklan bahwa hotel mereka memiliki kamar kosong dan yang fasilitas lebih baik, akun tersebut justru memberikan simpati atas awal liburannya yang kurang menyenangkan dan berharap penulis buku memiliki sisa liburan yang lebih menyenangkan.
Itulah salah satu bentuk dari soft selling, hotel saingan dapat dengan mudah memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menjual produknya, namun mereka lebih memilih untuk bersimpati dengan kesusahan penulis buku. Dan hasilnya, penulis buku memilih untuk tinggal di hotel tersebut pada liburan selanjutnya. Hotel saingan berhasil mendapatkan $600 hanya dari sebuah tweet, tidak terhitung keuntungan lain yang didapatkan dari rekomendasi penulis di dalam bukunya yang akan mendatangkan lebih banyak konsumen di lain waktu.
Ketika Anda menerapkan strategi soft selling, tidak hanya produk Anda yang mendapatkan gambaran positif, melainkan juga Anda sebagai penjual. Sebenarnya dengan menerapkan strategi ini, Anda bisa mendapatkan dua keuntungan sekaligus, yakni meningkatkan brand image dan personal image. Paparan di atas adalah contoh cara luwes soft selling produk di website. Jangan biasakan menjajakan produk Anda bak sales promotion, lakukanlah dengan anggun dan tepat sasaran.

A.IKLAN (ADVERTISING)
Tujuan utama periklanan pada umumnya untuk berkomunikasi. Periklanan adalah suatu bentuk komunikasi massa dan harus dibayar untuk menarik kesadaran, menanamkan informasi, mengembangkan sikap atau mengharapkan adanya suatu tindakan yang menguntungkan bagi pengiklan (Kasali,Rhenald, 1992:51). Seperti yang dikemukakan oleh Kottler, secara garis besar iklan dapatdikategorikan menjadi empat kategori sesuai dengan tujuan spesifik iklan tersebut dikomunikasikan, yaitu:
1. Iklan Informatif
Merupakan iklan yang dianggap penting dalam peluncuran kategori produk baru. Tujuan dari jenis iklan ini adalah merangsang permintaan produk dan meningkatkan awareness khalayak.
2.Iklan Persuasif
Iklan jenis ini merupakan iklan yang penting jika adanya persaingan dari penjualan produk yang dipasarkan. Beberapa iklan persuasif juga dapat membangun referensi pada brand tertentu. Beberapa iklan persuasif pun bisa mendorong adanya comparative advertising yang membanding-bandingkan dua produk atau lebih secara eksplisit, contohnya ialah iklan Pepsi dibandingkan dengan Coca-cola.

3. Iklan yang Mengingatkan (reminder advertising)
Iklan jenis ini biasanya dibuat untuk produk yang memiliki tahap kedewasaa dan telah mendapatkan tempat di tengah-tengah khalayak.

4.Iklan yang Menguatkan (reinforcement advertising)
Iklan yang bertujuan untuk menguatkan ini dibuat untuk meyakinkan konsumen yang telah menggunakan produk tersebut, bahwa mereka telah mengambil keputusan yang tepat. Sasaran atau tujuan iklan adalah tujuan komunikasi spesifik dan tingkat prestasi yang harus dicapai pada audiens spesifik dalam periode waktu tertentu. Tujuan iklan semestinya merupakan kelanjutan atau turunan dari keputusan perusahaan sebelumnya tentang target market, positioning dan integrated marketing. Selain itu tujuan iklan harus didasarkan pada analisa mendalam atas situasi pasar terkini (Kotler, Philip. 2003: 591).

B.PUBLIC RELATIONS
Publik bagi perusahaan merupakan seluruh kelompok yang secara langsung dan potensial memiliki kepentingan atau berdampak atas kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuannya. Secara luas public relations dapat diartikan sebagai perencanaan rancangan komunikasi persuasif untuk mempengaruhi publik-publik tertentu ( Sulaksana, Uyung. 2003:123).
Public Relations yang biasa disebut Hubungan Masyarakat (Humas) bertanggung jawab atas  berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan atau melindungi citra perusahaan atau produk-produknya.14 Public Relations juga merupakan suatu kegiatan yang luas dan mencakup segala macam kegiatan yang bertujuan untuk membentuk, mempertahankan, bahkan meningkatkan awareness bagi perusahaan, termasuk ruang lingkup hubungan kemasyarakatan, cakupan lingkungan, keuangan, suara konsumen dan manajemen personalia( Brannan, Tom. 2005: 54).

C.PENGERTIAN EXPERIENTIAL MARKETING
1.        Experiential Marketing berasal dari dua kata yaitu Experiential dan Marketing.
Sedangkan Experiential sendiri berasal dari kata experience yang berarti sebuah pengalaman. Definisi experience menurut Schmitt (1999, p.60): “Experiences are private events that occur in response to some stimulation (e.g. as provided by marketing efforts before and after purchase)” yang berarti pengalaman merupakan peristiwa-peristiwa pribadi yang terjadi dikarenakan adanya stimulus tertentu (misalnya yang diberikan oleh pihak pemasar sebelum dan sesudah pembelian barang atau jasa).
Menurut Pine II dan Gilmore (1999, p.12) berpendapat bahwa “Experience are event that engage individuals in a personal way” yang berarti pengalaman adalah suatu kejadian yang terjadi dan mengikat pada setiap individu secara personal. Sedangkan pengertian marketing menurut Evans and Berman (1992, p.8): “Marketing is the anticipation, management and satisfaction of demand through the exchange process”, artinya bahwa marketing adalah suatu aktivitas untuk melakukan antisipasi, pengelolaan dan pencapaian kepuasan konsumen melalui proses pertukaran.
Menurut Kotler et.al (2003, p.5): ”Marketing is typically seen as the task of crediting, promoting and delivering goods and services to consumers and businesses”, artinya marketing adalah suatu aktivitas bertypikal sebagai tugas untuk berekreasi atau menciptakan, berpromosi dan menjembatani antara barang dan jasa kepada konsumen dan bisnis. Bisa dikatakan bahwa pengertian Experiential Marketing adalah suatu aktivitas untuk melakukan antisipasi, pengelolaan dan pencapaian kepuasan konsumen melalui proses pertukaran yang merupakan peristiwa-peristiwa pribadi yang terjadi sebagai tanggapan atau beberapa stimulus.
2.      Karakteristik Experiential Marketing
Schmitt (1999, p.12) membagi Experiential Marketing menjadi empat kunci karakteristik antara lain:
a.      Fokus pada pengalaman konsumen
Suatu pengalaman terjadi sebagai pertemuan, menjalani atau melewati situasi tertentu yang memberikan nilai-nilai indrawi, emosional, kognitif, perilaku dan relasional yang menggantikan nilai-nilai fungsional. Dengan adanya pengalaman tersebut dapat menghubungkan badan usaha beserta produknya dengan gaya hidup konsumen yang mendorong terjadinya pembelian pribadi dan dalam lingkup usahanya.
b.       Menguji situasi konsumen
Berdasarkan pengalaman yang telah ada konsumen tidak hanya menginginkan suatu produk dilihat dari keseluruhan situasi pada saat mengkonsumsi produk tersebut tetapi juga dari pengalaman yang didapatkan pada saat mengkonsumsi produk tersebut.
c.       Mengenali aspek rasional dan emosional sebagai pemicu dari konsumsi
Dalam Experiential Marketing, konsumen bukan hanya dilihat dari sisi rasional saja melainkan juga dari sisi emosionalnya. Jangan memperlakukan konsumen hanya sebagai pembuat keputusan yang rasional tetapi konsumen lebih menginginkan untuk dihibur,
dirangsang serta dipengaruhi secara emosional dan ditantang secara kreatif.
d.      Metode dan perangkat bersifat elektik
Metode dan perangkat untuk mengukur pengalaman seseorang lebih bersifat elektik. Maksudnya lebih bergantung pada objek yang akan diukur atau lebih mengacu pada setiap situasi yang terjadi daripada menggunakan suatu standar yang sama. Pada Experiential Marketing, merek bukan hanya sebagai pengenal badan usaha saja, melainkan lebih sebagai pemberi pengalaman positif pada konsumen sehingga dapat menimbulkan loyalitas pada konsumen terhadap badan usaha dan merek tersebut.

3.      Manfaat Experiential Marketing
Fokus utama dari suatu Experiential Marketing adalah pada tanggapan panca indra, pengaruh, tindakan serta hubungan. Oleh karena itu suatu badan usaha harus dapat menciptakan experiential brands yang dihubungkan dengan kehidupan nyata dari konsumen. Dan Experiential Marketing dapat dimanfaatkan secara efektif apabila diterapkan pada beberapa situasi tertentu. Ada beberapa manfaat yang dapat diterima dan dirasakan suatu badan usaha menurut pandangan Schmitt (1999, p.34) apabila menerapkan Experiential Marketing antara lain: (a) to turn araund a declining brand, (b) to be differentiate a product from competition, (c) to create an image and identity for a corporation, (d) to promote innovation, (e) to induce trial, purchase and the most important, loyal consumption. yang kurang lebih memiliki arti (a) untuk membangkitkan kembali merek yang sedang merosot, (b) untuk membedakan satu produk dengan produk pesaing, (c) untuk menciptakan citra dan identitas sebuah perusahaan, (d) untuk mempromosikan inovasi, (e) untuk membujuk percobaan, pembelian dan loyalitas konsumen.

D. VIRAL MARKETING
Dalam pemanfaatan internet sebagai media iklan, sekarang ini telah mengalami evolusi. Salah satu evolusi dalam internet advertising dalam lima tahun terakhir adalah pemanfaatan Situs Jejaring Sosial sebagai bagian dari promotional mix (Mangoed dan Faulds, 2009). Ide penggunaan Situs Jejaring Sosial seperti Youtube, Facebook, Twitter untuk penyebaran informasi produk dikaitkan dengan kemampuan situs ini untuk memfasilitasi electronic Word of Mouth (eWOM) atau viral marketing diantara konsumen.
Porter dan Golan (2006) memberikan definisi awal tentang viral marketing yaitu komunikasi peer-to-peer (antar konsumen) yang tidak berbayar atas konten provokatif yang diperoleh dari sponsor tertentu menggunakan internet untuk mempengaruhi audience agar menyebarkan pesan kepada orang lain. Porter dan Golan (2006) mengenalkan bahwa viral marketing biasanya diperoleh dari daftar e-mail konsumen loyal atau situs perusahaan.Situs Jejaring Sosial seperti Facebook memungkinkan konsumen sasaran menjadi pengirim pesan dengan mengirimkan advertising kepada teman, menghubungkan teman kepada advertiser secara eksplisit, atau berkomentar pada iklan (Chu, 2011). Fasilitas dalam Facebook seperti group juga menjadi media pendukung viral marketing. Dengan Facebook group dapat memungkinkan advertiser mengirim pesan inbox kepada anggota group. Ketika anggota group mengirim ulang viral advertising kepada teman lain, mereka seolah-olah menjadi endorser dalam merk produk yang diiklankan di Facebook dan meningkatkan keinginan teman lain untuk melihat iklan tersebut.

Paper ini dituli oleh Elina Asopiah Mahasiswi Prodi Perbankan Syari’ah IAIN Pontianak Angkatan 2017
DAFTAR PUSTAKA
Danesi, Marcel. 2012. Pesan tanda, dan makna: buku teks dasar mengenai semiotika dan      teori komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra
Jurnal komunikasi pemasaran: Endang hariningsih, 2013 . internet advertising sebagai media komunikasi pemasaran interaktif akademi manajemen administrasi (ama) “ypk” Yogyakarta   Rhenald kasali. 1992. Manajemen Periklanan. Jakarta : PT Pustaka Utama Grafiti
Phillip kotler dan Kevin Lane Keller. 2006. Management Pemasaran. Jilid 1, Edisi Kedua Belas. Jakarta: Penerbit Indeks
Brannan, Tom. 2004. Integrated Marketing Communication. Jakarta : Penerbit PPM. 
Fill, C. 1999. Marketing Communications: Contexts, Contents, and Strategies. Herthfordshire: Prentice Hall.

Belch, G.E. & Belch, M.A. 2004. Advertising and Promotion: And Integrated Marketing Communication
Perspective. Boston: McGraw Hill-Irwin.


0 comments:

Post a Comment