Klik: Hermawan Kartajaya

Empowering customer mengacu pada upaya brand memberi kekuasaan kepada customer. Mereka harus dibuat seolah-olah memiliki brand itu sendiri (own the brand)

Klik: Peter F. Drucker

Hal paling penting dalam komunikasi adalah mendengarkan dan memahami apa yang tidak dikatakan.

Klik: Tony Robbins

Kualitas hidup Anda adalah kualitas komunikasi Anda.

Klik: Elizabeth Goenawan Ananto

PR merupakan ujung tombak dalam hal pemetaan kondisi publik dan perusahaan

Klik: Prita Kemal Gani

PR bukanlah masalah cantik atau gagahnya saja, namun lebih kepada kepiawaian, kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi, memiliki wawasan yang luas dan skill-skill yang mendukung profesinya

Sunday, November 26, 2017

Strategi Pengembangan Pesan



Strategi Pengembangan Pesan
Dalam menyebarkan sebuah pesan, tentunya harus dikoreksi terlebih dahulu untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam penulisan pesan. Begitu pula dengan pesan yang disampaikan sebisa mungkin dihindari dari pesan yang bersifat menoton, ambigu, dan terkesan tidak menarik. Strategi pengembangan pesan yang menarik didasari oleh penulisan yang jelas, mudah dimengerti, tidak membosankan, dan dapat menarik perhatian pembaca. Dalam pengemasan pesan yang baik, dibutuhkan adanya strategi pengembangan pesan yang bersifat kreatif yang tentunya memiliki tujuan untuk dapat mencapai tujuan periklanan. Dalam hal penyajian pesan yang dapat mendorong khalayak untuk dapat menyimak pesan dengan baik, maka hal ini dapat dilakukan dengan upaya memberikan poin-poin penting bagi khalayak dimana pesan tersebut dapat diingat meskipun khalayak juga meiliki rencana atau kegiatan yang menyebabkan perhatian mereka akan hilang.   
Isi pesan terdiri dari beberapa bentuk yaitu bersifat rasional, emosional, moral, dan disertai dengan kombinasi yang tepat. Struktur maupun format yang ada harus memiliki keterkaitan dengan tema yang digunakan bahkan tema yang menarik juga ikut menentukan keberhasilan dalam proses penyampaian pesan. Dalam sebuah tema, terdapat beberapa elemen didalamnya dimana struktur pesan harus mencantumkan sesuatu yang baru, memiliki perbedaan, mengandung harapan, dapat terlaksana dengan baik, bahkan memiliki ketersediaan waktu dan tempat yang tepat.  Selain tema yang menarik, pengelola pesan juga perlu memperhatikan ilustrasi yang ikut menonjolkan keistimewaan produk atau perusahaan dan layout yang dipakai sebagai penataan elemen iklan dengan mengingat prinsip desain.    
Pengembangan pesan yang baik, akan terasa lebih menarik apabila menggunakan seni retorika yang bersifat logis, berdasarkan tema yang menarik dan berbau unsur dramatis. Format pesan menekankan dan memaksimalkan fungsi yang ada menggunakan media audio dengan memperhatikan suara, efek, intonasi, vocal, dan dialek. Media cetak visual dengan memperhatikan ilustrasi, warna, ukuran, tone, kertas, dan tinta yang digunakan. Dan yang terakhir adalah memperhatikan semua elemen diatas. Pesan yang dikemas disesuaikan dengan kepentingan khalayak  terhadap pesan yang disajikan.
Berbagai metode dapat digunakan untuk mendapatkan informasi dalam rangka menganalisis khalayak sasaran, dimana setiap metode dapat memberikan berbagai hasil yang berbeda dan dapat digunakan tergantung pada kondisi atau keadaan dimana perencanaan akan dikembangkan.
Metode-metode tersebut diantaranya :

  1. Pengamatan atau observasi
  2. Mengajukan pertanyaan
  3. Survei khalayak
  4. Mempertimbangkan karakteristik insani khalayak

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pokok kunci merupakan tulang punggung dari sebuah pesan yang merencanakan garis besar sub-divisi utama. Syarat pokok sebuah pesan harus menyokong, menggambarkan, atau mendeskripsikan gagasan utama dengan gaya bahasa yang ringkas dan jelas agar khalayak mampu menerima isi pesan yang disajikan. Setelah gagasan utama dari pokok utama telah terbentuk, seorang komunikator kemudian dapat mengembangkan pokok-pokok tersebut menjadi kerangka atau struktur bangunan yang akan disampaikan. Dalam sistem komunikasi, feedback (umpan balik) adalah sebagai katup penyeimbang antara komunikasi, komunikator, dan komunikan. Khalayak yang menjadi sasaran memiliki kemampuan untuk memberikan tanggapan, kritik, pertanyaan untuk meminta penjelasan bahkan sampai pada sebuah penolakan terhadap gagasan yang disampaikan. Hal ini bertujuan untuk menghindari agar komunikasi tidak hanya berjalan satu arah tetapi merupakan proses berbagi informasi (sharing of information) antar kedua belah pihak yang terlibat. Sistem informasi yang demikian akan menghasilkan hubungan interaktif yang mengarah pada pembentukan hubungan mutualistik diantara kedua belah pihak.
Dalam buku komunikasi bisnis, Curtis (1996) mensistematisasikan format berfikir kreatif menjadi enam langkah utama yaitu :
  1. Mendefinisikan dan membatasi masalah
  2. Menganalisis masalah
  3. Menghasilkan pemecahan yang memungkinkan
  4. Menilai pemecahan yang diberikan
  5. Memilih pemecahan terbaik
  6. Pelaksanaan pemecahan masalah
Format berfikir kreatif itu sendiri memiliki dua orientasi atau arah pokok berupa masalah yang dihadapi dan khalayak yang memiliki masalah akan mencoba untuk mencoba atau menerima solusi alternatif yang diberikan. Oleh sebab itu, dalam pengemasan pesan itu terbagi dalam beberapa tim yang terdiri dari tim penulis naskah, tim editting, tim kreatif, dan tim publikasi. Masing-masing dari mereka memiliki tuga sesuai dengan bidang dan keahlian mereka. Melalui tahap-tahap ini lah sebuah pesan dapat dikembangkan terlebih dahulu sebelum dipublikasikan.    

Strategi Pengembangan Pesan


     Proses komunikasi merupakan transaksional atau aktivitas saling tukar-menukar ide dan gagasan diantara orang-orang yang terlibat. Dengan tujuan mengubah perilaku atau sikap khalayak dan terencana, menyampaikan gagasan yang baik adalah syarat penting agar tujuan komunikasi dapat tercapai. Mengembangkan pesan komunikasi yang terorganisir seperti membangun sebuah jembatan, hal ini proses penyampaian pesan harus terencana memiliki organisasi pesan, struktur, gaya, dan imbauan yang akan digunakan. Selanjutnya pesan yang akan disampaikan dapat dikembangkan dengan model sistematika tertentu, serta pesan disajikan dengan memperhitungkan atau disesuaikan dengan media yang digunakan, serta komunikator mampu memaksimalkan penggunaan model yang dipilih.

Dalam dunia periklanan komunikasi terhadap khalayak menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam upaya menarik minat atau mencari nilai dari sebuah merek produk. Iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi pemasaran yang mana informasi dan pesan produk dapat disampaikan kepada konsumen. Jenis iklan yang digunakan dalam penyampaian pesan nya disesuaikan dengan khalayak sasaran dan media yang akan digunakan. Sehingga iklan dapat dikatakan efektif apabila dapat menimbulkan efek kepada produsen dan mempengaruhi konsumen dalam tindakannya. dalam keefektifannya pesan memiliki beberapa kriteria diantaranya:
Mengembangkan satu ide atau pesan pokok, apabila terlalu banyak ide sasaran yang dituju akan bingnung dan memudahkan mereka untuk melupakan pesan tersebut.
Buatlah pesan yang mudah dan sederhana, pesan yang efektif harus memberikan informasi yang relevan dan baru untuk sasaran, apabila suatu pesan sudah diremehkan oleh sasaran maka pesan tersebut gagal.

Pesan harus dapat dipercaya, pesan yang disampaikan dalam iklan haruslah sesuai dengan apa yang di sajikan oleh produknya, sesuai fakta agar tidak menmbulkan persepsi negatif.
Pesan harus konsisten, hal ini sangat penting untk menimbulkan pembelian ulang para konsumen, berdasarkan ingatannya terhadap pesan yang terus diulang.
Pesan dapat menyentuh akal dan rasa, tidak hanya memberikan alasan teknis tetapi juga dapat diterima oleh akal dan pikiran dan dapat menyentuh nilai-nilai emosional.
Mendorong untuk bertindak dan melakukan sesuatu, pesan yang tersampaikan harus bisa mempengaruhi komunikan untuk melakukan tindakan atau perubahan perilaku.
Ketika ingin melakukan strategi pengembangan pesan dalam perencanaan media dan komunikasi, ada tiga faktor dalam pesan yakni:
Kode pesan, pean pada dasarnya merupakan bentuk yang dikode atau disandi, proses penyandian pesan dalam komunikasi dilakuakan demi mencapai kondisi isomorfik yaitu konisi kesamaan penafsiran pada perilaku yang sama dalam pikiran komunikator maupun komunikan agar dapat menghasilkan efek berupa perilaku yang sesuai dengan yang diharapkan.
Isi pesan, materi yang dipilih oleh sumber untuk menyatakan maksudnya. seperti hal nya kode pesan isi pesan juga mempunyai unsur dan struktur. Perencanaan isi pesan harus mempertimbangkan kondisi sasaran dan sebagai upaya untuk menginventarisasikan pesan-pesan yang telah disandi dan menyusunnya ke dalam urutan-urutan tertentu hingga ketika pesan tersebut kita sampaikan dapat benar-benar dipahami oleh penerima sesuai dengan tujuan komunikasi. Untuk komunikasi persuasive,Wayne N. Thompso (Rakmat, 1992:115-118) menyarankan bahwa isi pesan harus menarik perhatian, menyentuh dan menggerakkan sehingga pesan-pesan mempunyai pengaruh pskologis.
Perlakuan pesan, pengolahan pesan merujuk pada keputusan-keputusan yang diambil oleh sumber mengenai cara yang bagaimana yang harus ditempuh ketika isi menyampaikan pesannya.






Saturday, November 25, 2017

strategi pengembangan pesan



STRATEGI PENGEMBANGAN PESAN

Setelah menetapkan sasaran yang dipilih, maka kita dapat menyusun sebuah pesan yang dapat  mendorong sasaran ke arah tindakan atau perbuatan yang diharapkan. Dalam pengembangan suatu pesan diperlukan kemampuan antara ilmu dan seni. 

Hal yang harus diperhatikan dalam strategi pengembangan pesan ialah Thema, copywriting, Ilustrating, dan Layout.

Dalam pengembangan komunikasi yang efektif ada delapan tahapan yang harus dinilai. Yang harus dilakukan komunikator ialah:

Pertama mengidentifikaisi audiens sasaran. Proses komunikasi pemasaran harus diawali dengan pendefinisian yang jelas tentang audiens sasaran. Misalnya: pesan tertentu akan ditujukan kepada pembeli potensial produk perusahaan, pemakai, pengambil keputusan atau pembawa pengaruh bisa berupa kelompok, individu, publik tertentu atau publik secara umum. Audience sasaran sangat mempengaruhi keputusan komunikator tentang apa, bagaimana, kapan, dimana, dan kepada siapa pesan yang hendak disampaikan.

Kedua, Menentukan Tujuan Komunikasi. Setelah pasar sasaran dan persepsinya dipahami, kominkator pemasaran mesti merumuskan respon aundiens yang inginkan. Pemasar mungkin hanya ingin menempatkan pesannya dalam benak konsumen, mengubah sikapnya, atau mendorongnya untuk berbuat sesuatu. 

Ketiga, setelah aundiens sasaraan dan respon yang diinginkan selesai dirumuskan, komunikator bisa beranjak ke pengembangan pesan yang efektif. Idealnya pesan tersebut harus menarik perhatian, menimbulkan niat, memicu keinginan, dan mendorong orang untuk berbuat. Dalam perumusan pesan menuntut kita untuk menjawab empat pertanyaan : apa yang disampaikan (isi pesan), bagaimana mengatakan nya secara logis (struktur pesan), bagaimana mengatakannya secara simbolis (format pesan), dan siapa yang menyampaikannya (sumber pesan).

Keempat, Memilih Saluran Komunikasi. Komunikator memilih saluran komunikasi yang paling efisien untuk menyampaikan pesannya. Misalnya, umumnya detailer perusahaan formasi jarang dapat meminta waktu lebih dari sepuluh menit dari seorang dokter yang sibuk. Presentasi mereka harus singkat, tajan, mengena dan meyakinkan. Hal ini membuat kunjungan detailer sangat mahal. Industri farmasi mau tidak mau mesti memperluas saluran komunikasinya dengan memasang iklan di jurnal kedokteran, mengirim direct-mail (berisi kaset audio dan video), membagi Sampel gratis, dan juga telemarketing. Saluran komunikasi dapat dibagi menjadi dua, personal dan non personal. Saluran komunikasi personal meliputi dua orang atau lebih yang berkomunikasi langsung secara tatap muka, pembicara dengan audiensnya lewat telepon atau email komunikasi personal bisa lebih efektif karena adanya peluang untuk mengindividualisasikan penyampaian pesan dan umpan baliknya. Sedangnya saluran nonpersonal meliputi media, atmosfir dan even. Media terdiri dari media cetak (koran, majalah, direct-mail), media siaran (radio,televisi), media elektronik (kaset audio, Video, CD-ROM, halaman web), dan media display (baliho, papan iklan, poster, sign). Kebanyakan pesan non personal berasal dari media yang harus dibayar perusahaan (paid Media).

Kelima, Menetapkan Total Anggaran Komunikasi. Menurut pendapat Titik Nurbiyati dan Mahmud M (2005:287) dalam buku manajemen pemasaran kontemporer, salah satu kegiatan paling penting dan merupakan keputusan yang paling sukar yang biasanya dihadapi oleh perusahaan adalah menetapkan besarnya biaya promosu. Untuk menetapakan seberapa besar biaya promosi sebelumnya harus melalui proses penganggaran. Perusahaan dalam proses penganggaran ini bisa saja menerapkan metode dengan menetapkan terlebih dahulu jumlah anggaran untuk periklanan yang meliputi metode keterjangkauan, metode presentase penjualan, metode keseimbangan kompetitif, dan metode tujuan dan tugas.

Keenam, Memutuskan Bauran Komunikasi. Perusahaan harus membagi seluruh anggaran promosi dalam bauran komunikasi pemasaran diantara sarana promisi yang utama yang terdiri dari emat model komunikasi utama sebagai berikut : iklan, promosi penjualan, pemasaran langsung dan interaktif atau penjualan pribadi, Hubungan masyarakat (PR).

Ketujuh, Mengukur Hasil Komunikasi. Dalam Kotler (2005:330). Setelah pelaksaan promosi, komunikator harus bisa mengukur pengaruhnya pada target audiens. Anggota target audiens ditanya apakah memahami dan bisa mengingat pesan tersebut, berapa kali mereka melihat, poin apa yang diingat, bagaimana perasaan mereka tentang pesan itu, dan sikap mereka dulu dan sekarang terhadap produk dan perusahaan. Komunikator juga harus mengumpulkan ukuran, prilaku respon audiens, seperti beberapa banyak orang yang membeli prosduk, suka atau tidak, dan membicarakan tentang hal tersebut pada orang lain.

Dan yang terakhir, Mengelola Proses Komunikasi pemasaran terpadu. Dengan menggunakan strategi komunikasi pemasaran terpadu akan menghasilkan konsistensi komunikasi yang lebih baik dan dampak penjualan yang lebih besar. Komunikasi pemasaran terpadu membawa strategi komunikasi pemasaran kearah positif bagi perusahaan maupun konsumennya. Dalam Kontler (2005:337). Mengatur dan mengkoordinasikan seluruh proses komunikasi memerlukan Integrated Marketing Communication : rencana komunikassi pemasaran yang menyadari nilai tambah dari rencana yang komprehensive yang menilai peranan strategi dari bermacam-macam disiplin komunikasi dan menggabungkan disiplin ini untuk menghasilkan kejelasan, konsistensi, dan pengaruh maksimum melalui keutuhan pesan yang berlainan.

Sumber:

Thursday, November 23, 2017

Strategi Brand

     Brand merupakan sebuah produk, yang secara potensial dinilai oleh pasar sasaran berdasarkan keuntungan atau kepuasan yang tersedia, yang meliputi objek, jasa, organisasi, tempat,. orang atau idea. Sebagian besar konsumen melihat brand atau merek sebagai bagian produk yang penting dan dapat menamah nilai terhadap produk.

Komunikasi pemasaran memiliki peran dalam membentuk citra merek dan dalam meningkatkan penjualannya. Ketatnya persaingan usaha, perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen membuat pemasar harus menerapkan komunikasi pemasaran terpadu.

Asosiasi Pemasaran Amerika mendefinisikan brand atau merek sebagai nama, istilah, simbol, tanda, atau kombinasinya, yang ditujukan agar dapat mengenali barang atau jasa dari satu atau sekelompok penjual dan membedakannya dari produk dan jasa para pesaing. Dapat menjadi investasi jangka panjang brand atau merek merusahaan yang apabila dikelola dengan maksimal akan memberikan keuntungan besar bagi perusahaan yang mengelolanya. Karena dalam suatu proses pembelian adalah menyeleksi brand atau merek yang dikenal dalam suatu kelompok untuk dipertimbangkan dan diputuskan produk mana yang akan dibeli.

Brand concept manajemen merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan ekuitas dan loyalitas konsumen yang berkelanjutan, yang mana sebagai proses perencanaan, implementasi, dan pengendalian suatu konsep merek sepanjang masa hidup merek tersebut.

Brand atau merek dengan top mind mempunyai nilai pertimbangan yang tinggi, jika suatu brand tidak tersimpan dalam ingatan konsumen, berarti brand tersebut tidak akan dipertimbangkan dalam benaknya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa brand yang sudah bertahan puluhan tahun kini berhasil menjadi merek termahal karena dikelola oleh perencanaan manajemen merek yang sukses. Dalam jangka waktu yang lama bahwa berinvestasi dengan brand memberikan hasil yang lebih menguntungkan. 





Analisis Konsumen II



ANALISIS KONSUMEN II
Perilaku konsumen memiliki kepentingan khusus bagi orang karena berbagai alasan berhasrat mempengaruhi atau mengubah perilaku itu, termasuk mereka yang kepentingan utamanya adalah pemasaran, pendidikan, dan perlindungan konsumen,sertakebijakan umum. Sebelum Perang Dunia II, banyak perusahaan, tetapi berorientasi pada produksi yang mencerminkan filosofi bahwa “produk yang baik akan menjual diri sendiri”. Namun persoalannya berubah sesudah perang, ketika banyak perusahaan mendapatkan bahwa mereka memiliki kapasitas yang lebih produktif daripada yang diserap pasar. Segera menjadi penting sekali untuk mengubah focus dari produksi ke pemasaran.Elemen kunci dala definisi ini adalah pertukaran antara pelanggan dan penyuplai. Masing-masing pihak memberikan sesuatu yang bernilai kepada pihak lain dengan tujuan memenuhi kebutuhan mereka masing-masing. Dalam konteks pembelian yang normal, uang ditukar dengan barang atau jasa yang diinginkan.Perhatikan bahwa pelanggan terletak pada inti dari proses tersebut. Semua yang dilakukan penyuplai dalam hal produk, harga, promosi dan distribusi diadaptasikan dengan permintaan pasar. Oleh karena itu pelanggan menjalankan pengaruh dominan pada semua yang dilakukan perusahaan. Tidak mengherankan bahwa studi perilaku konsumen memiliki akar utamanya di dalam bidang ekonomi, dan yang lebih baru, dalam bidang pemasaran.
A.    Definisi prilaku konsumen
Perilaku konsumen merupakan suatu proses yang berkaitan erat dengan proses pembelian, pada saat itu konsumen melakukan aktifitas-aktifitas seperti melakukan pencarian, penelitian, dan pengevaluasian produk. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian.Yang termasuk ke dalam perilaku konsumen selain mengenai kualitas produk, juga meliputi harga produk atau jasa tersebut. Jika harga suatu produk tidak terlalu tinggi, maka konsumen tidak akan terlalu lama membutuhkan waktu untuk memikirkan dan melakukan aktifitas perilaku konsumen. Namun jika harga suatu barang atau jasa tersebut bisa dibilang tinggi, atau mahal, maka konsumen tersebut akan memberikan effort lebih terhadap barang tersebut. Pembeli tersebut akan semakin lama melakukan perilaku konsumen, seperti melihat, menanyakan, mengevaluasi, dan mempertimbangkan.
Berikut adalah beberapa definisi perilaku konsumen menurut para ahli:
A.    Menurut Engel, Blackwell dan Miniard
Perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan produk dan jasa, termasuk didalamnya adalah proses keputusan yang mengawali serta mengikuti tindakan pembelian tersebut. Tindakan tersebut adalah terlibat secara langsung dalam proses memperoleh, mengkonsumsi bahkan membuang atau tidak jadi menggunakan suatu produk atau jasa tersebut.
B. Menurut The American Marketing Association
Perilaku konsumen adalah proses membagai interaksi dinamis dari pengaruh dan kesadaran, perilaku dan lingkungan dimana seseorang melakukan pertukaran aspek kehidupannya.
C.  Menurut Mowen
Perilaku konsumen merupakan aktivitas ketika seseorang mendapatkan, mengkonsumsi atau membuang barang atau jasa pada saat proses pembelian.
A.    Menurut Schiffman dan Kanuk
Perilaku konsumen adalah suatu proses yang dilalui oleh seorang pembeli dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi serta bertindak pada konsumsi produk dan jasa, maupun ide yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan seseorang tersebut.

B.       PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN OLEH KONSUMEN

Proses Pengambilan Keputusan Membeli Sebelum membeli suatu produk atau jasa, umumnya konsumen melakukan evaluasi untuk melakukan pemilihan produk atau jasa. Evaluasi dan pemilihan yang digunakan akan menghasilkan suatu keputusan. Pengambilan ke putusan sendiri merupakan sebuah proses yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif sebelum pembelian, pembelian, konsumsi, dan evaluasi alternatif sesudah pembelian (Engel,1995). Selanjutnya akan dijelaskan mengenai proses pengambilan keputusan membeli yang meliputi pengertian proses pengambilan keputusan membeli, tahap-tahap dalam proses pengambilan keputusan membeli, tingkatan dalam proses pengambilan keputusan membeli serta faktor apa saja yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan membeli.
Pengertian proses pengambilan keputusan membeli Engel (1995) mengatakan bahwa proses pengambilan keputusan membeli mengacu pada tindakan konsisten dan bijaksana yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Pengambilan keputusan membeli merupakan keputusan konsumen tentang apa yang hendak dibeli, berapa banyak yang akan dibeli, di mana akan dilakukan, kapan akan dilakukan dan bagaimana pembelian akan dilakukan (Loudon & Bitta, 1993). Berkowitz (2002) juga mengemukakan bahwa proses keputusan pembelian merupakan tahap-tahap yang dilalui pembeli dalam menentukan pilihan tentang produk dan jasa yang hendak dibeli. Ahli lain menyatakan bahwa pengambilan keputusan konsumen adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasikan.
Pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memilih salah satu diantaranya (Setiadi, 2003). Sementara Schiffman-Kanuk (2007) mengatakan bahwa keputusan sebagai seleksi terhadap dua pilihan alternatif atau lebih, dengan kata lain ketersediaan pilihan yang lebih dari satu merupakan suatu keharusan dalam pengambilan keputusan. Berdasarkan uraian diatas, maka proses pengambilan keputusan membeli yang dipakai dalam penelitian ini merujuk pada teori yang dikemukakan oleh Engel (1995) yakni proses pengambilan keputusan membeli mengacu pada tindakan konsisten dan bijaksana yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Selanjutnya akan dibahas mengenai tahapan-tahapan dalam membeli.
·         Para ahli telah merumuskan proses pengambilan keputusan model lima tahap, meliputi:
Pengenalan masalah Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali masalah atau kebutuhan, yang dipicu oleh rangsangan internal atau eksternal. Rangsangan internal misalnya dorongan memenuhi rasa lapar, haus dan seks yang mencapai ambang batas tertentu. Sedangkan rangsangan eksternal misalnya seseorang melewati toko kue dan melihat roti yang segar dan hangat sehingga terangsang rasa laparnya.
·         Pencarian informasi Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Sumber informasi konsumen yaitu: Sumber pribadi: keluarga, teman, tetangga dan kenalan. Sumber komersial: iklan, wiraniaga, agen, kemasan dan penjualan. Sumber publik: media massa dan organisasi penilai konsumen Sumber pengalaman penanganan, pemeriksaan dan menggunakan produk
·         Evaluasi alternatif Konsumen memiliki sikap beragam dalam memandang atribut yang relevan dan penting menurut manfaat yang mereka cari. Kumpulan keyakinan atas merek tertentu membentuk citra merek, yang disaring melalui dampak persepsi selektif, distorsi selektif dan ingatan selektif
·          Keputusan pembelian Dalam tahap evaluasi, para konsumen membentuk preferensi atas merek-merek yang ada di dalam kumpulan pilihan. Faktor sikap orang lain dan situasi yang tidak dapat diantisipasi yang dapat mengubah niat pembelian termasuk faktor-faktor penghambat pembelian. Dalam melaksanakan niat pembelian, konsumen dapat membuat lima sub-keputusan pembelian, yaitu: keputusan merek, keputusan pemasok, keputusan kuantitas keputusan waktu dan keputusan metode pembayaran
·         Perilaku pasca pembelian Para pemasar harus memantau kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca pembelian dan pemakaian produk pasca pembelian, yang tujuan utamanya adalah agar konsumen melakukan pembelian ulang.

C.    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Perilaku pembelian konsumen sebenarnya di pengaruhi oleh faktor-faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Sedangkan faktor yang paling berpengaruh dan paling luas dan paling dalam adalah faktor budaya.
1.      Faktor budaya
Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada perilaku konsumen.
Perusahaan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas sosial pembeli. Budaya adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya. Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis: kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar sering kali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Kelas-kelas sosial adalah masyarakat yang relatif permanen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur dari kombinasi pendapatan, pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan variable lain
.
2.      Faktor sosial
Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor sosial, seperti kelompok kecil, keluarga serta peranan dan status sosial konsumen. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil. Kelompok yang mempunyai pengaruh langsung. Definisi kelompok adalah dua orang atau lebih yang berinteraksi untuk mencapai sasaran individu atau bersama. Keluarga dapat pempengaruhi perilaku pembelian. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Keputusan pembelian keluarga, tergantung pada produk, iklan dan situasi. Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok selama hidupnya-keluarga, klub, organisasi. Posisi seseorang dalam setiap kelompok dapat diidentifikasikan dalam peran dan status. Setiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat.
3.      Faktor pribadi
Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahapan daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli. Konsumsi seseorang juga dibentuk oleh tahapan siklus hidup keluarga. Beberapa penelitian terakhir telah mengidentifikasi tahapan-tahapan dalam siklus hidup psikologis. Orang-orang dewasa biasanya mengalami perubahan atau transformasi tertentu pada saat mereka menjalani hidupnya. Pekerjaan mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok pekerja yang memiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa tertentu. Situasi ekonomi seseorang akan mempengaruhi pemilihan produk. Situasi ekonomi seseorang terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkatnya, stabilitasnya, dan polanya), tabungan dan hartanya (termasuk presentase yang mudah dijadikan uang Gaya hidup seseorang adalah pola hidup di dunia yang diekspresikan oleh kegiatan, minat dan pendapat seseorang. Gaya hidup menggambarkan “seseorang secara keseluruhan” yang berinteraksi dengan lingkungan. Gaya hidup juga mencerminkan sesuatu dibalik kelas sosial seseorang. Kepribadian adalah karakteristik psikologis yang berada dari setiap orang yang memandang responnya terhadap lingkungan yang relatif konsisten. Kepribadian dapat merupakan suatu variabel yang sangat berguna dalam menganalisa perilaku konsumen. Bila jenis- jenis kepribadian dapat diklasifikasikan dan memiliki korelasi yang kuat antara jenis-jenis kepribadian tersebut dengan berbagai pilihan produk atau merek.
4.      Psikologi
Pemilihan barang yang dibeli seseorang lebih lanjut dipengaruhi oleh empat faktor psikologis, yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan serta kepercayaan.
Motivasi merupakan kebutuhan yang cukup menekan untuk mengarahkan seseorang mencari cara untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Beberapa kebutuhan bersifat biogenik, kebutuhan ini timbul dari suatu keadaan fisiologis tertentu, seperti rasa lapar, rasa haus, rasa tidak nyaman. Sedangkan kebutuhan-kebutuhan lain bersifat psikogenik yaitu kebutuhan yang timbul dari keadaan fisologis tertentu, seperti kebutuhan untuk diakui, kebutuhan harga diri atau kebutuhan diterima. Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang berarti dari dunia ini. Orang dapat memiliki persepsi yang berbeda-beda dari objek yang sama karena adanya tiga proses persepsi:
1.      Perhatian yang selektif
2.       Gangguan yang selektif
3.       Mengingat kembali yang selektif
4.      Pembelajaran menjelaskan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman. Sedang kepercayaan merupakan suatu pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.
5.      Faktor Marketing Strateg Merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan
D.    Proses Internal Psikologi Konsumen
Proses psikologis dasar peran penting dalam memahami bagaimana konsumen benar-benar membuat keputusan pembelian mereka.Sebelum mengambil keputusan ada lima tahap yang harus dilewati dalam proses keputusan pembelian oleh konsumen, yaitu: 
Pengenalan Masalah, proses pembelian dimulai ketika pembeli menyadari suatu masalah atau Kebutuhan yang dipicu oleh rangsangan internal dan eksternal. Pemasar harus harus mengidentifikasi keadaan yang memicu kebutuhan tertentu dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen sehingga mereka bisa mengembangkan strategi pemasaran yang memicu minat konsumen.
Pencarian Informasi, tingkat ini merupakan salah satu tingkat yang penting bagi seorang konsumen dalam mengambil sebuah keputusan. Seorang konsumen harus melakukan survei ke beberapa toko dan membandingkan beberapa merek agar benar-benar mendapatkan sebuah produk yang berkualitas. Sumber informasi yang dapat dijadikan acuan oleh konsumen diantaranya adalah pribadi (keluarga, teman, tetangga, rekan), Komersial (iklan, situs web), Publik (media massa, organisasi), Eksperimental (penanganan, pemeriksaan, penggunaan produk).
Evaluasi Alternatif, setelah mendapatkan informasi hal yang harus dilakukan oleh konsumen adalah melakukan penilaian atau evaluasi terhadap sebuah produk. Beberapa konsep dasar yang akan membantu konsumen untuk memhami proses evaluasi adalah konsumen berusaha untuk memuaskan kebutuhan, mencari manfaat tertentu dari solusi produk dan konsumen melihat sebuah produk sebagai sekelompok atribut yang mampu menghantarkan manfaat yang diperlukan untuk memuaskan kebutuhan. Keputusan pembelian, dalam tahap evaluasi konsumen membentuk preferensi antarmerk dalam kumpulan pilihan, konsumen mungkin juga membentuk maksud untuk membeli merk yang paling disukai. Untuk melakukan atau mengambil sebuah keputusan konsumen dapat membentuk lima subkeputusan yaitu merek, penyalur, kualitas, waktu, metode pembayaran.
Perilaku Pasca Pembelian, setelah pembelian, konsumen mungkin mengalami konflik dikarenakan melihat fitur mengkhawatirkan tertentu atau mendengar hal-hal yang menyenagkan tentang merek lain dan waspada terhadap informasi yang mendukung keputusannya. Komunikasi pemasaran seharusnya memasok keyakinan dan evaluasi memperkuat pilihan konsumen dan membantunya merasa nyaman tentang merek tersebut. Oleh karena itu konsuemn harus mengamati keputusan pascapembelian, tindakan pascapembelian, dan penggunaan produk pascapembelian.
Psikologi konsumen adalah hubungan antara penciptaan suatu produk dan peluang penggunaannya oleh individu dengan proses-proses mental (psikologis) yaitu meliputi pemahaman tentang proses psikologi dalam diri konsumen sebagai individu maupun kelompok, aspek-aspek psikologi yang dipertimbangkan dalam strategi pemasaran/distribusi produk, riset pemasaran dalam konteks psikologi.
Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan.[1] Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian.
Psikologi konsumen atau di kenal dengan istilah perilaku konsumen menurut Munandar (2001) adalah mempelajari secara luas perilaku manusia terhadap barang barang dan jasa di mana manusia sebagai konsumennya. Misalnya menguraikan macam pilihan dan alasan terhadap apa yang telah di pilih.
Bahkan Sutisna (2002) mengatakan bahwa terdapat dua alasan mengapa psikologi untuk di pelajari ? pertama, karena konsumen sebagai titik sentral perhatian pemasaran. Kedua, karena ini menunjukan bahwa lebih banyak produk yang ditawarkan dari pada permintaan.
Mempelajari apa yang di inginkan dan di butuhkan oleh konsumen pada saat ini merupakan hal sangat penting karena, memahami konsumen akan menuntun pemasar pada kebijakan pemasaran yang tepat dan efisien. Dengan bidikan yang fokus, maka biaya yang di keluarkan untuk promosi akan lebih murah dan tepat sasaran. Selain itu, penawaran produk yang berlebih akan menyebabkan banyak produk yang tidak terjual atau tidak di konsumsi oleh konsumen.


E.     Alternatif Pendekatan Dalam Mempelajari Perilaku Konsumen
Terdapat tiga pendekatan utama dalam meneliti perilaku konsumen.[5] Pendekatan pertama adalah pendekatan interpretif.[5] Pendekatan ini menggali secara mendalam perilaku konsumsi dan hal yang mendasarinya. Studi dilakukan dengan melalui wawancara panjang dan focus group discussion untuk memahami apa makna sebuah produk dan jasa bagi konsumen dan apa yang dirasakan dan dialami konsumen ketika membeli dan menggunakannya.
Pendekatan ke dua adalah pendekatan tradisional yang didasari pada teori dan metode dari ilmu psikologi kognitif, sosial, dan behaviorial serta dari ilmu sosiologi.[5] Pendekatan ini bertujuan mengembangkan teori dan metode untuk menjelaskan perilaku dan pembuatan keputusan konsumen. Studi dilakukan melalui eksperimen dan survei untuk menguji coba teori dan mencari pemahaman tentang bagaimana seorang konsumen memproses informasi, membuat keputusan, serta pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku konsumen.
Pendekatan ke tiga disebut sebagai sains pemasaran yang didasari pada teori dan metode dari ilmu ekonomi dan statistika[5]Pendekatan ini dilakukan dengan mengembangkan dan menguji coba model matematika berdasarkan hierarki kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow (Teori hierarki kebutuhan Maslow) untuk memprediksi pengaruh strategi marketing terhadap pilihan dan pola konsumsi, yang dikenal dengan sebutan moving rate analysis.

Paper ini ditulis oleh Aryani Puspita Mahasiswa Jurusan Perbankan Syari’ah IAIN Pontianak angkatan 2014

Daftar pustaka  
Ma’ruf Jasman J 2005, Riset Perilaku Konsumen : Nilai Membeli Melalui Internet,Program Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
http://pustaka.ut.ac.id/website/index.php?option=com_content&view=article&id=96:adni-4410-psikologi-industri&Itemid=74&catid=29:fisip