Klik: Hermawan Kartajaya

Empowering customer mengacu pada upaya brand memberi kekuasaan kepada customer. Mereka harus dibuat seolah-olah memiliki brand itu sendiri (own the brand)

Klik: Peter F. Drucker

Hal paling penting dalam komunikasi adalah mendengarkan dan memahami apa yang tidak dikatakan.

Klik: Tony Robbins

Kualitas hidup Anda adalah kualitas komunikasi Anda.

Klik: Elizabeth Goenawan Ananto

PR merupakan ujung tombak dalam hal pemetaan kondisi publik dan perusahaan

Klik: Prita Kemal Gani

PR bukanlah masalah cantik atau gagahnya saja, namun lebih kepada kepiawaian, kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi, memiliki wawasan yang luas dan skill-skill yang mendukung profesinya

Friday, November 10, 2017

Mengenal Dasar PR

Public relation (humas) adalah sebuah seni sekaligus ilmu sosial dalam menganalisa kecenderungan, meramalkan konsekuensinya, memberikan pengarahan kepada pimpinan institusi/lembaga dan melaksanakan program-program terencana yang dapat memenuhi kepentingan baik institusi, lembaga dan  masyarakat yang terkait.
Public relation atau hubungan masyarakat masih merupakan bidang baru terutama di Indonesia. Lahirnya public relations seperti yang dipraktekan sekarang ialah karena adanya kemajuan-kemajuan dalam berbagai macam bidang itu. Kemajuan yang sekaligus merupakan juga kekuatan-kekuatan dalam masyarakat, memisahkan manusia kedalam berbagai kelompok atau golongan, yang masing-masing mempunyai tujuan sendiri dan berusaha untuk mencapai tujuan itu dengan sebaik-baiknya.
Ruang Lingkup Public relation Dalam keseharianya menangani masalah komunikasi dengan Publik Internal dan juga Publik Eksternal namun dari beberapa publik nantinya terpecah menjadi beberapa kelompok seperti Pers, dan pemerintah.
Public Relation adalah semua bentuk komunikasi yang terencana, baik itu kedalam  maupun  keluar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan saling pengertian. Public Relations timbul karena adanya ketergantungan antar individu, individu dan kelompok, maupun antar kelompok dengan masyarakat. Kualitas informasi dan keintensifan komunikasi yang terjadi membuat hubungan dalam sebuah Publik menjadi sesuatu yang sangat penting demi kelangsungan individu, kelompok maupun masyarakat.  Hubungan yang sehat terjadi bilamana terdapat kepercayaan dari publik-publik atas keterbukaan dan kejujuran sebuah kelompok, organisasi maupun masyarakat.

Public Relations merupakan kegiatan komunikasi dalam suatu perusahaan secara timbal balik. Hal ini adalah jalur pertama komunikasi berbentuk penyebaran informasi dari perusahaan kepada publik. Pada jalur kedua komunikasi berlangsung dalam bentuk penyampaian tanggapan atau opini publik dari publik ke perusahaan tadi. Melalui komunikasi dua arah tersebut, pihak perusahaan harus selalu mengkaji, apakah informasi yang disebarkan kepada publiknya itu diterima, dipahami dan diaplikasikan atau tidak. Evaluasi ini perlu sebagai bahan perencanaan kegiatan ke depannya.
Secara sederhana ruang lingkup pekerjaan yang biasa dilakukan Humas atau Public relations, yaitu:

1.            Publication & Publicity
Mengenalkan perusahaan kepada publik. Misalnya membuat tulisan yang disebarkan ke media, news letter, artikel, dan lainnya.

2.            Events
Mengorganisasi event atau kegiatan sebagai upaya membentuk citra.

3.            News
Pekerjaan seorang public reletions adalah menghasilkan produk-produk tulisan yang sifatnya menyebarkan informasi kepada publik, seperti press release, newsletter, berita, dan lain-lain.

4.            Community involvement.
Public reletions mesti membuat program-program yang ditujukan untuk menciptakan keterlibatan komunitas atau masyarakat.

5.            Identity-Media
Merupakan pekerjaan public reletions dalam membina hubungan dengan media (pers) untuk memperoleh publisitas media.

6.            Lobbying
Public reletions sering melakukan upaya persuasi dan bernegoisasi dengan berbagai pihak.

7.            Social investement
Pekerjaan public reletions untuk membuat program-program yang bermanfaat bagi kepentingan dan kesejahteraan sosial.

Untuk melakukan pekerjaan di bagian publisitas dan media relations seorang Public reletions mempunyai alat-alat kegiatan, seperti:

             Press release (menulis berita tentang perusahaan kepada media)
             Press conference (menyampaikan informasi tentang perusahaan dengan secara langsung mengundang wartawan)
             Press tours (mengundang wartawan untuk berkunjung ke perusahaan)
             Press party (menjamu wartawan makan bersama)
             Press receptions (mengadakan acara khusus pertemuan dengan wartawan)
             Media gathering (mengumpulkan media dalam sebuah forum
Morissan Dalam bukunya Hospitality and Travel Marketing (2008: 13) membahas mengenai ruang lingkup Public Relations yang memberikan pandangan kepada kita, bahwa pekerjaan Public Relations saat ini sudah terspesialisasi. Setiap organisasi atau perusahaan tidak bisa dipisahkan dengan public.  Ruang Lingkup Public Relation dibagi menjadi 2 yaitu Internal dan Eksternal.
Public Relations internal yaitu ruang lingkup yang masih di dalam suatu perusahaan itu sendiri . Contohnya:

             Employee Relations (hubungan dengan para pekerja)
             Stockholder Relations (hubungan dengan para pemegang saham)
             Labour Rekations (hubungan dengan para buruh)
             Manager Relations (hubungan dengan para manager)
Tujuan dibinanya hubungan dengan pihak internal adalah : untuk menciptakan hubungan baik yang harmonis dalam rangka memperoleh kesediaan kerjasama diantara orang-orang yang menjadi bagian dari organisasi serta memungkinkan orang-orang tersebut untuk ikut berpartisipasi dan berprestasi lebih tinggi dengan medapatkan kepuasan dari hasilnya.
Mencapai karyawan yang mempunyai kegairahan kerja Bentuk-bentuk hubungan pada publik internal disebut:

1.            Employee elations yaitu kegitan PR untuk memelihara hubungan khusus antara manajemen dengan para karyawan. Bentuknya formal karena employee merupakan potensi yang sangat berarti dalam organisasi karena dianggap dapat menentukan sukses tidaknya suatu organisasi.

2.            Manager relations  yaitu kegiatan PR untuk memelihara hubungan baik dengan para manajer di lingkungan perusahaan.

3.            Labour relations yaitu kegiatan PR dalam rangka memelihara hubungan antara pimpinan dengan serikat buruh di dalam perusahaan dan turut menyelesaikan masalah-masalah yang timbul antara keduanya.

4.            Stockholder relations yaitu kegiatan PR dalam rangka memelihara hubungan dengan para pemegang saham.
Publik Relations eksternal yaitu khalayak yang berada di luar organisasi/perusahaan. Contohnya:

             Goverment relations (menjaga hubungan baik dengan pemerintah)
             Community relations (menjaga hubungan baik dengan warga setempat)
             Consumer relations (menjaga hubungan baik dengan konsumen)
             Media and Pers relations (menjaga hubungan dengan media massa dan pers)

Wahidin Saputra dan Rulli Nasrullah di dalam bukunya yang berjudul “Public Relations Teori dan Praktik Public Relations di Era Cyber” (2011: 54-59) membagi ruang lingkup Public Relations berdasarkan jenis organisasi yang pada garis besarnya adalah:

1.            Humas (PR) Pemerintah, Lembaga-lembaga pemerintah pusat sampai tingkat daerah dilengkapi dengan bagian humas untuk mengelola informasi dan opini publik. Informasi mengenai kebijaksanaan pemerintah disebarkan seluas-luasnya, dan opini public dikaji dan diteliti seefektif-efektifnya untuk keperluan pengambilan keputusan dan penentuan kebijaksanaan berikutnya.

2.            Humas (PR) Perusahaan, Perusahaan merupakan organisasi yang memiliki kekhasan dalam sifat, fungsi dan tujuannya maka humas perusahaan mempunyai kekhasan pula, meskipun dalam aspek-aspek tertentu terdapat persamaan dengan jenis-jenis humas lainnya. Di dalam Humas (PR) Perusahaan sendiri diklarifikasikan menjadi beberapa bagian yakni, Hubungan dengan karyawan oleh humas (PR), Hubungan dengan pemegang saham, Hubungan dengan pelanggan, Hubungan dengan komunitas khalayak sekitar, Hubungan dengan pemerintah  dan Hubungan dengan pers.

3.            Humas (PR) Internasional, seorang Amerika yang dianggap pelopor dalam mengembangkan humas internasional, mengatakan bahwa humas internasional akan berkembang pesat apabila suasananya didukung oleh tiga unsur dominan, yakni : Pertama, Pemerintah yang mapan dan demokratis. Kedua, Sistem ekonomi yang memungkinkan dikembangkan perusahaan pribadi dan digalakannya persaingan disegala lapangan yang menuntut kerja keras. Ketiga, Media yang besar dan merdeka, yang memperoleh pengawasan pemerintah secara minimal.

Kedudukan Public Relation Korporate
Secara umum Public Relations mempunyai kedudukan yang sangat strategis, yakni berada di antara dua pihak publik. Baik untuk publik lingkup internal maupun publik lingkup eksternal.  Hal ini mengisyaratkan bahwa seorang Public Relations fungsinya adalah sebagai “penyambung lidah’’ perusahaan atau organisasi. Khususnya dalam hal mengadakan hubungan timbal balik dengan publik yang berada di dalam dan umumnya dengan publik publik yang berada di luar perusahaan.
Menurut Rhenald Khasali dalam "Manajemen Public Relations", mengatakan, Public Relation mempunyai tugas yang sangat sensitif, yakni menjaga kepuasan para stakeholders termasuk pemegang saham dan pemerintah. Public Relation bertanggung jawab terhadap pencegahan dan pemecahan krisis yang dapat mematikan perusahaan. Pekerjaan-pekerjaan ini membutuhkan kedekatan dengan pemimpin dan memerlukan dukungan penuh dari pimpinan atau di Indonesia dalam hal ini adalah pemegang saham mayoritas.
Kedudukan humas dan kewenangan petugasnya dalam organisasi tidak selalu dapat dinyatakan dengan tegas. Menurut John Tondowijojo, dalam bukunya Kedudukan Humas dalam Organisasi, (Bandung: Remaja Rosda Karya), 2004, hlm. 122 jika humas di akui sebagai bagian jajaran kebijakan pimpinan, humas harus berada langsung dibawah direksi. Humas harus mampu menyampaikan kebijaksanaan pimpinan sehingga ia harus berada dipihak yang berhubungan dengan pimpinan seluruh jajaran manajemen.

Kedudukan Public Relations dalam Organisasi/perusahaan yaitu:

•             Divisi PR harus jelas pengorganisasiannya (struktur organisasi, wewenang,job description, tanggungjawab, sertasistem kerjanya).

•             Struktur yang ideal berada di tingkat top level bila dilihat dari fungsi, tujuan dan peranan PR.

•             Dalam praktik terdapat berbagai macam kedudukan PR dalam organisisasi : mandiri (divisi PR),di bawah divisi pemasaran, dibawah corporate secretary, bagian umum,dll. Pada organisasi kecil, PR umumnya dijabat sekaligus oleh pimpinan organisasi tersebut.

•             Dilihat dari  tingkatan strukturnya, divisi PR ada yang berada di level atas, menengah maupun bawah (lower).

Keberhasilan suatu organisasi harus disertai dengan kesuksesan membangun relasi dengan seluruh komponen yang terlibat dalam sebuah sistem yang dijalani, baik secara internal maupun eksternal. Misalnya, sebuah perusahaan selalu memperhatikan “suara” atau “tanggapan” dari para konsumen atau pelanggannya. Hal ini penting karena suatu produk/jasa yang telah diberikan akan mendapatkan respon oleh penggunannya.

Kegiatan humas haruslah sistematis dan terencana, tetapi kadang-kadang juga perlu untuk berimprovisasi dan berinovasi. Suatu kebijakan harus dipertimbangkan, dirumuskan, direncanakan dan di evaluasikan. Untuk ini diperlukan analisis data yang diperoleh tentang organisasi dan lingkungannya. Seberapa jauh Public Relation harus menapakkan ke peran internal atau fungsi eksternal, tentu saja sepenuhnya tergantung pada kebijakan manajemen. Hanya saja kalau kita menginjak pada tataran ideal fungsi Ppublic Relation, tentu saja keseimbangan peran internal dan eksternal adalah perlu. Seberapa jauh titik keseimbangan tersebut harus dijalankan tentu tergantung pada bidang gerak perusahaan/organisasi yang bersangkutan.

Dalam menjalankan fungsinya seorang Public Relation, sebagai pejabat humas dituntut untuk memiliki empat kemampuan, yaitu:

1.            Memiliki kemampuan mengamati dan menganalisis suatu persoalan berdasarkan fkata di lapangan, perencanaan kerja komunikasi dan mampu mengevaluasi suatu problematic yang dihadapinya.

2.            Kemampuan untuk menarik perhatian, melalui berbagai kegiatan publikasi yang kreatif, inovatif, dinamis dan menarik bagi publiknya sebagai target sasarannya.

3.            Kemampuan untuk mempengaruhi pendapat umum, merekayasa pandangan atau opini public (crystallizing public opinion) yang searah dengan kebijakan organisasi instansi yang diwakilinya itu dalam posisi yang saling mnguntungkan.

4.            Kemampuan PR/Humas menjalin suasana saling percaya toleransi, saling menghargai, good will dan lain sebagainya dengan berbagai pihak, baik public internal maupun eksternal.

Hubungan masyarakat atau Public Relations adalah suatu usaha yang sengaja dilakukan, direncanakan secara berkesinambungan untuk menciptakan saling pengertian antara sebuah lembaga/institusi dengan masyarakat. Humas (PR) adalah sebuah seni sekaligus ilmu sosial dalam menganalisa kecenderungan, meramalkan konsekuensinya, memberikan pengarahan kepada pimpinan institusi/lembaga dan melaksanakan program-program terencana yang dapat memenuhi kepentingan baik institusi maupun lembaga tersebut maupun masyarakat yang terkait.

Kedudukan Public Relations bagi organisasi dan bagi reputasi organisasi. Perubahan politik, sosial dan teknologi dalam masyarakat luas, ditambah dengan munculnya ekonomi global, telah semakin mengukuhkan perlunya program – program Public Relations diterapkan melalui strategi yang teratur pada setiap tingkatan usaha. Hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah setiap karyawan atau anggota organisasi merupakan perwakilan dari sebuah perusahaan atau organisasi, dan segala prilakunya akan mencerminkan citra keseluruhan perusahaan atau organisasi.

Dalam pembahasan materi di atas mengenai lingkup public relation dan kedudukan public ration korperat mungkin masih banyak kekurangan, baik di segi penulisan ataupun di dari penyusunan kalimat dan kata-katanya,oleh sebab itu saya selaku penulis minta maaf sebesar-besarnya kepada dosen dan mahasiswa semua, sebagai penyempurna kami mengharap kritik dan saran yang positif dari teman-teman semua.

Paper ini ditulis oleh Siti Romlah Mahasiswi Prodi Perbankan Syariah IAIN Pontianak Angkatan 2014. 

Daftar Pustaka
http://derikpr.com/2017/11/07/ruang-lingkup-pr-public-relations/
Wahidin Saputra dan Rulli Nasrullah “Public Relations Teori dan Praktik Public Relations di Era Cyber” tahun 2011, hal 54-59
Morissan, Hospitality and Travel Marketing, tahun 2008, hal 13
John Tondowijojo, Kedudukan Humas dalam Organisasi, (Bandung: Remaja Rosda Karya), 2004, hlm. 122

http://akbarpublicrelation.blogspot.co.id/2016/01/kedudukan-dan-strategi-public-relation.html di akses pada tanggal 14 januari 2016 

Dasar Public Relations

Beberapa pakar tidak menentukan secara pasti kapan timbulnya organisasi public relations. Hingga saat ini belum ada persamaan pendapat antara para ahli, kapan public relations muncul hal ini disebabkan karena tidak adanya catatan resmi ataupun dokumen otentik yang bisa memastikan mulainya timbul public relations.Ketika melihat sejarah perkembangan Public Relations, sebenarnya baru dikenal pada abad ke-20. Namun perlu dicatat bahwa sebelum abad ke-20 sudah tampak gejala-gejalanya bahkan sejak manusia masih primitif. Unsur-unsur dasarnya memberi informasi, membujuk dan mengintegrasikan khalayak selalu tampak dalam kehidupan masyarakat zaman dulu.

Kegiatan-kegiatan Public Relations pada abad pertengahan diperluas dengan adanya perkembangan kehidupan demokrasi. Sifat-sifat merasa merdeka, sama derajat dan memiliki harga diri serta jaminan atas hasil produksinya, mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan perdagangan pada masa itu. Secara tidak disadari, mereka mempraktikan Public Relations dengan tujuan memberikan pelayanan yang baik kepada publiknya melalui persaingan yang bebas.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, komunikasipun dituntut untuk lebih maju lagi, sehingga kegiatan Public Relations pun semakin banyak dipergunakan, banyak dipelajari dan diteliti. Perkembangan tersebut mendorong lahirnya Public Relations dalam bentuk modern di Amerika Serikat. Public Relations yang mulanya merupakan kegiatan tanpa disadari, kini sudah menjadi suatu profesi, suatu ilmu pengetahuan yang diteliti dan dikaji secara khusus.

Istilah Public Relations atau disingkat PR atau disebut juga “Provincial” di Indonesia secara umum diterjemahkan menjadi Hubungan Masyarakat atau disingkat Humas, kini tampak semakin berkembang, baik dalam kegiatan studi secara akademik maupun dalam kegiatan operasionalnya, dipemerintahan atau pun lembaga-lembaga dan perusahaan swasta. Karena istilah bahasa selalu mengacu pada etimologinya, dan kedua istilah itu dibedakan oleh bahasa yang berlatarbelakang berbeda, sudah barang tentu operasionalnya dan aktualisasinya pun menjadi berbeda. Padahal maksud kedua istilah itu didasarkan pada konsep yang sama yaitu Public Relations. Untuk menghindari kesimpangsiuran pemahaman dan pengalaman konsep dimaksud di kalangan masyarakat, kiranya perlu kita ketahui sejarahnya terlebih dahulu, sehingga kita bisa mengambil pengertian yang tepat akan konsep Public Relations.

Sejarah perkembangan public Relations

Secara pasti, timbulnya orgnaisasi public relations sukar ditentukan. Sampai sekarang belum ada persamaan pendapat antara para ahli, kapan public relations muncul sebagai badan atau lembaga yang terorganisasi. Ini sebabnya tidak adanya catatan resmi ataupun dokumen otentik yang bisa memastikan mulainya timbul public relations secara terorganisasi. Ada sebagian orang bersama-sama ingin menyampaikan sejarah PR yang sangat panjang akrena mereka percaya hal itu dapat meningkatkan kredibilitasnya. Sebagai contoh Cutlip, dkk di dalam buku karangan Butterick (2012:9) menyatakan bahwa komunikasi informasi untuk memengaruhi pandangan dan tidakan dapat ditelusuri dari awal peradaban. Para arkeolog menemukan sebuah buletin pertanian di Irak yang mengatakan bagaimana para petani di tahun 1800 SM bercocok tanam dan melakukan irigasi dengan baik. Public Relations telah digunakan berabad-abad yang lalu di Inggris, dimana saat itu raja dijaga oleh Lord Chancellor sebagai “Penjaga Suara Hati Raja”.

Salah satu masalah dengan studi sejarah PR adalah tidak adanya sejarah tunggal tentang PR dari sudut pandang manapun didunia ini, dimana pada kenyataanya terdapat beberapa sejarah PR yang berbeda dan bahkan tidak berhubungan satu sama lain. PR, seperti yang sudah kita pahami saat ini, mulai dipraktikan pada akhir abad ke-19 dan diawal abad ke-20. Kaitan teori dengan praktik diilustrasikan dengan sangat baik dalam karier dan kerja dua orang figur PR yang paling berpengaruh – Ivy Ledbetter Lee dan Edward Bernays yang memberikan kontibusi baik untuk teori maupun praktik PR.

Hal yang menarik adalah mereka juga mewakili dua metode praktik PR yang berbeda dan berkebalikan. Menurut Lee, PR adalah ‘seni’ di mana krativitas dan inovasi harus kritis , sementara Edward Bernays memperoleh pengaruh dari teori psikologi milik pamanya, Sigmund Freud, di mana ia mengatakan bahwa PR bisa jadi merupakan ‘keilmuan’ praktis. Meski tidak ada yang menjelaskan apakah cerita tersebut benar atau salah, namun perlu untuk mengilustrasikan perbedaan antara keduanya. Bagi Lee, aktivitas PR tidak lebih dari serangkaian peristiwa jangka pendek untuk menarik perhatian publik dan mencapai tujuan tertentu. Sementara itu, Bernays mencari teori dan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana mengintrol dan memengaruhi audiens.

Defenisi Public Relations

Sebelum mengetahui defenisi dari Public Relations ada baiknya kita mengetahui dahulu secara etimologis. Public Relations terdiri dari dua buah kata yaitu Public dan Relations. Dalam bahasa Indonesia, kata pertama berarti publik dan kata kedua berarti hubungan-hubungan. Jadi, Public Relations berarti hubungan-hubungan dengan publik. Adapun penjabaran untuk memahami apa yang dimaksud dari Public Relations dapat dijelaskan dengan memarpakn pengertian masing-masing kata tersebut.

Istilah public sukar diIndonesiakan, dan sampai saat ini belum ada terjemahan yang khusus serta baku. Menurut Oemi didalam buku Suhandang (2004:30) menyatakan pengertian public mengacu pada sekelompok orang yang menaruh perhatian pada sesuatu hal yang sama, mempunyai minat dan kepentingan yang sama pula dimana yang menonjol dalam public adalah perhatian dan kepentingan, bukan kehidupan atau hubungan antara anggotanya. Mengenai pengertian public lebih jelas lagi dikemukakan oleh Emory S.Bogardus di dalam buku Suhandang (2004:31) yang menyatakan bahwa public adalah sejumlah besar orang dimana sumber antara yang satu dengan yang lainya bisa tidak saling mengenal, akan tetapi semuanya mempunyai perhatian dan minat yang sama terhadap suatu masalah.

Dari beberapa pendapat tersebut mengenai arti public yang di Indonesia diartikan masyarakat dapat dikatakan berbeda. Karena dalam bahasa Inggris, istilah public dibedakan dari istilah society. Dimana kita ketahui, arti society didalam kamus bahasa Inggris-Indonesia dengan arti masyarakat. Oleh J.B.A.F Mayor Polak di dalam buku Suhandang (2004:30), masyarakat itu diartikan sebagai wadah dari seluruh antar-hubungan sosial dari seluruh jaringannya dalam artian umum, tanpa menentukan suatu batas tertentu. Jadi, yang menonjol dalam masyarakat adalah hubungan antara sejumlah insan serta adanya hidup bersama atas dasar rasa saling memiliki. Di dalam masyarakat dikenal adanya norma-norma dan etika tertentu yang membatasi lingkungan hidupnya.Maka dalam hal ini kurang tepat jika public relations di terjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai Humas atau Hubungan Masyarakat. Demikian terjemahan untuk public sebaiknya kita ambil publik saja, karena tidak ada istilah lain dalam bahasa Indonesia yang sama pengertianya. 

Maka sehubungan dengan istilah public relations, kata public diartikan sebagai publik yang bermakna himpunan atau kumpulan oran-orang dan lembaga atau organisasi yang berkepentingan serta berada disekitar badan atau perusahaan di mana organisasi itu berada. Publik tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu Pertama, Publik Internal yang merupakan grup atau himpunan yang berada di dalam perusahaan atau instansi yang bersangkutan yang terdiri atas: para pegawai atau karyawan, pemegang saham atau yang biasa disebut dengan stockholder public. Kedua, Publik Eksternal yaitu grup atau himpunan yang berada di luar perusahaan atau instansi yang bersangkutan yang terdiri atas para langganan, pembeli, pemasok bahan baku, orang-orang atau penduduk yang tinggal disekitar daerah dimana perusahaan atau instansi itu berada.

Kemudian istilah relations pada hakikatnya dimaksudkan dengan kegiatan membentuk suatu pertalian relasi atau menjalin hubungan satu sama lain. Lebih teknisnya lagi kegiatan dimaksud merupakan komunikasi dalam menciptakan hubungan yang harmonis antara dua pihak, dimana satu dengan yang lainya sama-sama memperoleh keuntungan sehingga terikat dalam suatu hubungan kefamilian. Dari pengetian tersebut kiranya bisa dipahami pula kurang tepatnya kita menggunakan istilah hubungan masyarakat bagi terjemahan public relations.

Adapun pendapat para ahli mengenai apa itu Public Relations, dimana hingga ratusan bahkan ribuan orang telah menulis defenisi dan mencoba untuk menangkap esensi dari public relations dengan membuat daftar aktivitas utama yang ditemukan dalam praktik. Seorang ilmuan dan pemimpin profesional yang telah lama berkecimpung dalam public relations, Rd.Rex F. Harlow, yang mengoleksi berbagai defenisi dari tahun 1900 an hingga tahun 1976bsetelah menganalisa lebih dari 472 defenisi akhirnya berhasil merangkai sebuah defenisi yang mencakup baik elemen konseptual maupun elemen operasional bahwa Public relations adalah:

Fungsi manajemen yang berbeda yang membantu membentuk dan memelihara jalur komunikasi, memahami, menerima dan bekerja sama antara organisasi dengan publiknya menyangkut manajemen masalah atau persoalan membantu manajemen masalah atau persoalan membantu manajemen untuk terus terinformasi dan atau responsif terhadap opini publik; menetapkan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani keinginan publik; membantu manajemen dalam mengahadapi dan menggunakan secara efektif atas perubahan, sebagai sistem peringatan untuk membantu mengantisipasi tren dan menggunakan riset serta menggunakan komunikasi yang bermanfaat dan efektif sebagai alat utamanya.

Dengan demikian, dalam istilah Public Relations yang kita kenal itu terkandung makna filosofis yang menjadi dasar kegiatanya, yaitu: pertama, Public Relations merupakan filsafat manajemen yang bersifat sosial. Kedua, Public Relations merupakan pengenjawatahan filsafat tersebut dalam bentuk kebijaksanaan tertentu. Ketiga, Public relations merupakan tindakan atas konsekuensi dari kebijaksanaa tersebut dan keempat, Public relations merupakan kegiatan komunikasi timbal balik antara suatu badan atau perusahaan dengan publiknya. Komunikasi yang memperkenalkan (diri) keberadaan perusahaanya dan menjelaskan segala kebijaksanaan perusahaan kepada publiknya, serta menerima tanggapan dan aspirasi atau selera publiknya.

Tujuan Public Relations

Menurut Steinberg di dalam buku Suhandang (2004: 53) menyatakan bahwa tujuan Public Relations adalah menciptakan opini publik yang menyenangkan tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh badan atau perusahaan yang bersangkutan. Menurut pendapat lain dari Dimock Marchall,dkk didalam buku Sirait (1970: 21) membagi tujuan Public Relations atas dua bagian yaitu:
1.              Secara positif berusaha mendapatkan dan menambah penilaian serta jasa baik suatu organisasi atau perusahaan.
2.              Secara defensif berusaha untuk membela diri terhadap pendapat masyarakat yang bernada negatif, bilaman diserang dan serangan itu kurang wajar, padahal organisasi atau perusahaan itu tidak salah (terjadi kesalahpahaman).

Dengan demikian tindakan ini merupakan salah satu aspek penjagaan atau pertahanan. Pada pokoknya kegiatan Public Relations bertujuan untuk mempengaruhi pendapat, sikap, sifat dan tingkah laku publik dengan jalan menumbuhkan penerimaan dan pengertian dari publik.
Adapun tujuan yang harus dikembangkan dalam pengembangan program public relations di bidang bisnis adalah peningkatan penjualan, keuantungan dan penginformasian kepada publik agar mereka tahu lebih banyak tentang organisasi atau perusahaan dengan cara menonjolkan keunggulan yang ditawarkan kepada publik atau pelanggan dibandingkan dengan apa yang mampu diberikan oleh pesaing, dan membantu membangun relasi yang baik dengan media.

Menurut Nova (2011: 52) menyatakan bahwa tujuan utama dari kegiatan public relations adalah membangun kredibilitas dan membangkitkan motivasi bagi stakeholders perusahaan guna meminimalkan biaya pengeluaran proses transfer komunikasi yang dapat dikelompokan sebagai berikut:

  • Performance Objective

PR merupakan kegiatan komunikasi untuk mempresentasikan citra perusahaan kepada publiknya, melaksanakan serangkaian kegiatan untuk membentuk dan memperkaya identitas dan citra perusahaan di mata stakeholder.

  • Support of Consumer Market Objective

Kegiatan PR dapat digunakan untuk mengidentifikasi permasalahan yang timbul sehubungan dengan kegiatan komunikasi yang dilaksanakan oleh perusahaan dengan menitikberatkan pembahasan pada identifikasi tingkat kesadaran konsumen, sikap dan presepsi konsumen terhadap produk tayangan yang ditawarkan perusahaan. Hasil identifikasi tersebut kemudian dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan perusahaan untuk menerapkan strategi pendekatan yang sesuai.

Fungsi Public Relations

Fungsi utama Public Relations adalah menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik antarlembaga dengan publiknya, internal maupun eksternal dalam rangka menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik dalam upaya menciptakan opini publik yang menguntungkan perusahaan atau lembaga organisasi. Adapun menurut Simanjuntak (2003:16) menjabarkan fungsi dari Public Relations sebagai berikut:

  1. Public relations membantu organisasi atau perusahaan untuk mengantisipasi dan merespon presepsi dan opini publik, nilai baru dan gaya hidup, pengalihan kekuasaan diantara pemilik dan diantar legislatif, dan untuk perubahan lain di dalam lingkungan.  Tanpa public relations yang efektif, organisasi cenderung untuk menjadi tidak peka terhadap perubahan yang terjadi disekitarnya dan pertumbuhanya justru menuju ke arah yang tidak diharapkan
  2. Public relations juga membuat informasi selalu tersedia melalui sistem infirmasi publik. Para praktisi meningkatkan pengetahuan dan pemahaman publik dengan mengungkapkan apa yang menajdi pemikiranya serta mengadakan debat dengan mengacu pada berbagai isu.
  3. Public relations melayani keinginan publik dengan kesediaanya menyuarakannya di dalam forum publik atau peristiwa yang menjadi pusat perhatian publik, termasuk memperhatikan mereka kaum bawah yang tidak dapat didengar suaranya karena lepas dari perhatian media.


Praktisnya melayani masyarakat dengan menjadi mediator konflik dan dengan membangun hubungan yang menjadi kesepakatan bersama diperlukan untuk memelihara ketentraman masyarakat. Fungsi sosial ini dapat terpenuhi ketika menggantikan ketidakpedulian,paksaan, dan pendirian yang keras dengan pengetahuan,kompromi dan penyesuaian. Dengan kata lain, public relations memfasilitasi penyesuian dan memelihara sistem sosial yang membekali kita dengan kebutuhan fisik dan sosial.

Menurut profesor dari Yale dan pendiri Public Relation Quarterly, Harwood L. Childs telah memperkenalkan sebuah konsep yang lebih jauh di tahun 1930-an. Dengan berjalan melawan kebijakan konvensional, Childs menyimpulkan bahwa inti dari public relations “tidak mewakili sebuah sudut pandang, bukans eni dari perilaku mentl emosional, juga bukan pengembangan relasi hangat dan menguntungkan”. Sebaliknya, dia mengatakan bahwa fungsi dasarnya:
“adalah untuk mendamaikan atau menyesuaikan dengan aspek keinginan publik dengan perilaku personal dan kotporat yang memiliki arti sosial”.

Lebih detail lagi diungkapkan dalam penelitian yang diadakan oleh International Public Relations Association (IPRA) pada 1981 yang mengemukakan bahwa umumnya fungsi public relations masa kini meliputi 15 pokok berikut:

  1. Memberikan konseling yang didasari pemahaman masalah perilaku manusia
  2. Membuat analisis”trend” masa depan dan ramalan akan akibat-akibatnya bagi institusi
  3. Melakukan riset pendapat, sikap dan harapan masyarakat terhadap institusi dan memberi saran tindakan-tindakan yang diperlukan institusi untuk mengatasinya.
  4. Menciptakan & membina komunikasi dua arah 
  5. Mencegah konflik dan salah pengertian
  6. Meningkatkan rasa saling hormat dan rasa tanggung jawab sosial.
  7. Melakukan penyerasian kepentingan institusi terhadap kepentingan umum
  8. Meningkatkan iktikad baik institusi terhadap anggota, pemasok dan konsumen
  9. Memperbaiki hubungan industrial
  10. Menarik tenaga kerja yang baik agar menjadi anggota dan mengurangi keinginan anggota untuk keluar dari institusi.
  11. Memasyarakatkan produk atau layanan
  12. Mengusahakan perolehan laba yang maksimal
  13. Menciptakan jati diri institusi
  14. Memupuk minat mengenai masalah-masalah nasional maupun internasional
  15. Meningkatkan pengertian mengenai demokrasi.


PR, seperti yang sudah kita pahami saat ini, mulai dipraktikan pada akhir abad ke-19 dan diawal abad ke-20. Kaitan teori dengan praktik diilustrasikan dengan sangat baik dalam karier dan kerja dua orang figur PR yang paling berpengaruh – Ivy Ledbetter Lee dan Edward Bernays yang memberikan kontibusi baik untuk teori maupun praktik PR. Public Relations yang kita kenal itu terkandung makna filosofis yang menjadi dasar kegiatanya, yaitu : pertama, Public Relations merupakan filsafat manajemen yang bersifat sosial. Kedua, Public Relations merupakan pengenjawatahan filsafat tersebut dalam bentuk kebijaksanaan tertentu. Ketiga, Public relations merupakan tindakan atas konsekuensi dari kebijaksanaa tersebut dan keempat, Public relations merupakan kegiatan komunikasi timbal balik antara suatu badan atau perusahaan dengan publiknya. Komunikasi yang memperkenalkan (diri) keberadaan perusahaanya dan menjelaskan segala kebijaksanaan perusahaan kepada publiknya, serta menerima tanggapan dan aspirasi atau selera publiknya.

Dengan demikian tindakan ini merupakan salah satu aspek penjagaan atau pertahanan. Pada pokoknya kegiatan Public Relations bertujuan untuk mempengaruhi pendapat, sikap, sifat dan tingkah laku publik dengan jalan menumbuhkan penerimaan dan pengertian dari publik. Adapun tujuan yang harus dikembangkan dalam pengembangan program public relations di bidang bisnis adalah peningkatan penjualan, keuantungan dan penginformasian kepada publik agar mereka tahu lebih banyak tentang organisasi atau perusahaan dengan cara menonjolkan keunggulan yang ditawarkan kepada publik atau pelanggan dibandingkan dengan apa yang mampu diberikan oleh pesaing, dan membantu membangun relasi yang baik dengan media.

Fungsi utama Public Relations adalah menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik antarlembaga dengan publiknya, internal maupun eksternal dalam rangka menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik dalam upaya menciptakan opini publik yang menguntungkan perusahaan atau lembaga organisasi.

Daftar Pustaka
Butterick, Keith 2012. Pengantar Public Relations: Teori dan Praktik. Jakarta: Rajawali Pers.
Nova, Firsan 2011. CRISIS Public Relations: Strategi PR Menghadapi Krisis, Mengelolah Isu, Membangun Citra, dan Reputasi Perusahan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Ruslan, Rosandy, 2007. Manajemen Public Relations dan media Komunikasi; Konsepsi dan Aplikasi; edisi revisi cet.8. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Simandjuntak, Jhon. P dkk, 2003. Public Relations. Yogyakarta: Graha.
Suhandang, Kustadi, 2004. Public Relations Perusahaan. (Bandung: Nuansa).

Artikel ini ditulis oleh Nurul Isdayuni Mahasiswi Prodi Perbankan Syariah IAIN Pontianak Angkatan 2014.

Monday, November 6, 2017

Pengantar Public Relations

Pengantar Public Relations
Public Relations (PR) atau yang lebih dikenal dengan istilah Hubungan Masyarakat (Humas) diartikan sebagai profesi yang berhubungan dengan masyarakat dengan sekelompok individu yang berjumlah banyak. Seorang Public Relations harus mampu menciptakan opini publik untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam hubungannya dengan masyarakat, public relations harus bisa membangun dan mempertahankan pengertian timbal balik antara organisasi dengan masyarakatnya, serta memperoleh kepercayaan dan goodwill dari mereka. Jadi, definisi Public Relation (PR) adalah seseorang yang profesional dalam bidangnya untuk menciptakan opini publik, kepercayaan, dan goodwill serta penetapan kebijaksanaan dalam pencapaian tujuan organisasi dengan secara tepat  dan secara terus menerus guna membangun dan mempertahankan pengertian timbal balik antara organisasi dengan masyarakatnya karena public relation merupakan kelangsungan hidup organisasi yang bersangkutan.

Definisi Public Relation
Menurut Kotler dan Armstrong (2008: 117), ”Public Relations (hubungan masyarakat) ialah membangun hubungan baik dengan berbagai kalangan untuk mendapatkan publisitas yang diinginkan, membangun citra perusahaan yang baik, dan menangani atau menghadapi rumor, berita, dan kejadian tidak menyenangkan”.

Menurut Marsefio S. Luhukay dalam Jurnal Scriptura (2008: 19) Public Relations (PR) hadir sebagai suatu kebutuhan, kebutuhan untuk menjembatani organisasi dengan para pemangku kepentingan (stakeholders). Jembatan yang dibangun PR bukanlah jembatan keledai, tetapi jembatan yang sungguh-sungguh kokoh, berdiri atas dasar Trust, Honest, dan Credibility. Public Relations ada, karena ada kepercayaan. Artinya masyarakat percaya pada organisasi dan organisasi percaya pada masyarakat atas dasar saling pengertian dan win-win solution. PR membangun citra dan reputasi organisasi lewat opini public yang menguntungkan (favourable) melalui kaca mata publik yang memotret aktivitas organisasi di media massa. Lewat citra dan reputasi organisasi tetap dapat berdiri kokoh dalam ranah kompetisi yang sangat tajam merebut pangsa pasar dan konsumen yang loyal pada produk dan servis dari organisasi.

Public Relations (PR) adalah  fungsi manajemen yang membangun dan mempertahankan hubungan  yang baik dan bermanfaat antara organisasi dengan public yang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi tersebut (Cutlip, Center, & Broom, 2009: 6). Dalam buku “Effective Public Relations” Menurut  Rex F. Harlow,  dalam definisinya mencakup elemen konseptual dan operasional: Public Relations adalah fungsi manajemen tertentu yang membantu membangun dan menjaga lini komunikasi, pemahaman bersama,  penerimaan mutual dan kerja sama antara organisasi dan publiknya; PR melibatkan manajemen problem atau manajemen isu; PR membantu manajemen agar tetap responsif dan mendapat informasi terkini tentang opini publik: PR mendefinisikan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani kepentingan publik; PR membantu manajemen tetap mengikuti perubahan dan memanfaatkan perubahaan secara efektif, dan PR dalam hal ini adalah sebagai sistem peringatan dini untuk mengantisipasi arah perubahan (trends); dan PR menggunakan riset dan komunikasi yang sehat dan etis sebagai alat utamanya (Cutlip, Center, & Broom, 2009: 9).

Definisi Menurut (British) Institute of Public Relations (IPR) PR adalah keseluruhan upaya yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik (good-will) dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya. Definisi Menurut (Frank Jefkins) PR adalah semua bentuk komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian. Pertemuan asosiasi-asosiasi PR seluruh dunia di Mexico City pada bulan Agustus 1978, menghasilkan pernyataan mengenai definisi PR sebagai berikut: “Praktik PR adalah sebuah seni sekaligus ilmu sosial yang menganalisis berbagai kecenderungan, memperkirakan setiap kemungkinan konsekuensinya, memberi masukan dan saran-saran kepada para pemimpin organisasi, serta menerapkan program-program tindakan yang terencana untuk melayani kebutuhan organisasi dan kepentingan khalayaknya (Jefkins & Yadin, 2004: 9-11).

Jadi berdasarkan definisi-definisi tersebut terdapat beberapa inti dari public relations yakni: goodwill, kepercayaan, pengertian pada dan dari publik sesuatu badan khususnya dan masyarakat umumnya. Dalam public relations terdapat suatu usaha untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara sesuatu badan dan publiknya, usaha untuk memberikan atau menanamkan kesan yang menyenangkan, sehingga akan timbul opini publik yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup badan tersebut. (Saputra dan Nasrullah, 2011: 4)

Falsafah Public Relations
Public Relations (PR) merupakan falsafah sosial manajemen yang diterapkan pada kebijaksanaan, dan pelaksanaannya melalui interpretasi yang peka atas berbagai peristiwa berdasarkan komunikasi dua arah atau timbal balik dengan publiknya, untuk menumbuhkan saling pengertian dan etiket baik.
PR juga merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari kegiatan usaha atau bisnis. Edward L. Berneys dalam bukunya Public Relations menyatakan bahwa PR mempunyai tiga macam arti, yaitu (Edward L. Berneys, 
  1. Memberi informasi kepada masyarakat;
  2. Persuasi yang dimaksudkan untuk mengubah sikap dan tingkah laku masyarakat terhadap lembaga, demi kepentingan dua belah pihak;
  3. Usaha untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan antara lembaga dengan sikap atau perbuatan masyarakat dan sebaliknya.
Empat unsur falsafah dari definisi Public Relations adalah sebagai berikut (Juwito, 2008:20):
  1. PR merupakan falsafah manajemen yang bersifat sosial.
  2. PR merupakan perwujudan falsafah tersebut pada tataran kebijaksanaan.
  3. PR merupakan komunikasi dua arah yang menunjang keberhasilan kebijakan itu dengan menjelaskan, menginformasikan, mempertahankan atau mempromosikannya kepada publik sehingga tercipta saling pengertian dan etiket baik.
  4. PR merupakan suatu cara pendekatan untuk menciptakan opinipublik.
Adapun empat unsur falsafah Public Relations yang berpengaruh dibidang teori dan praktik adalah sebagai berikut:


  1. PR sebagai upaya mempengaruhi kemauan individu, golongan, atau masyarakat yang menjadi sasaran, dengan maksud mengubah pikiran, pendapat publik secara umum oleh pemerintah.
  2. PR ditujukan untuk mendorong atau memajukan usaha-usaha di bidang ekonomi. Falsafah ini dipakai oleh badan usaha ekonomi yang mencari keuntungan.
  3. PR dengan menggunakan pengetahuan yang luas dan bijaksana bisa dipergunakan dalam pencapaian tujuan.
  4. Dimaksud misi di sini arah tujuan dari fungsinya diintegrasikan dengan kebutuhan publik.

Proses Public Relations
Menurut Cutlip & Center (dalam Kasali dan Abdurachman), proses PR sepenuhnya mengacu kepada pendekatan manajerial. Proses ini terdiri dari: fact finding, planning, communication, dan evaluation (Abdurachman, 2001:31). Kasali mengadapsinya menjadi: pengumpulan fakta, definisi permasalahan, perencanaan dan program, aksi dan komunikasi, serta evaluasi.
  1. Fact finding adalah mencari dan mengumpulkan fakta/data sebelum melakukan tindakan. Misalnya PR sebelum melakukan suatu kegiatan harus terlebih dahulu mengetahui, misalnya: apa yang diperlukan publik, siapa saja yang termasuk kedalam publik, bagaimana keadaan publik dipandang dari berbagai faktor.
  2. Planning adalah berdasarkan fakta membuat rencana tentang apa yang harus dilakukan dalam menghadapi berbagai masalah itu.
  3. Communicating adalah rencana yang disusun dengan baik kemudian dikomunikasikan atau dilakukan kegiatan operasional.
  4. Evaluation adalah mengadakan evaluasi tentang suatu kegiatan, apakah tujuan sudah tercapai atau belum. Evaluasi itu dapat dilakukan secara kontinyu. Hasil evaluasi ini menjadi dasar kegiatan PR berikutnya.
Kasali menegaskan bahwa proses PR memperlihatkan dengan jelas pelaksanaan tugas PR bukan semata-mata melakukan aksi, melaikan membutuhkan rencana-rencana dan diikuti langkah-langkah pengendalian melalui proses evaluasi (Soemirat & Ardianto, 2010:90).

Proses PR selalu dimulai dan diakhiri dengan penelitian. berikut ini adalah empat langkah yang biasa dilakukan dalam proses PR.
1.         Definisikan Permasalahan
Begitu pula dalam PR, seorang praktisi PR harus dapat mengenal symptom dan penyebabnya.
2.         Perencanaan dan Program
Pada tahap ini seorang praktisi PR sudah menemukan penyebab timbulnya permasalahan dan sudah siap dengan langkah-langkah pemecahan atau pencegahan.
3.         Aksi dan Komunikasi
Banyak praktisi PR sering melupakan kedua proses di atas dan langsung masuk ke tahap ketiga, yaitu langsung melakukan aksi dan komunikasi berdasarkan asumsi pribadi. Meski tidak jarang tindakan itu membawa hasil yang tidak buruk, langkah ini sama sekali tidak disarankan karena terlalu tinggi resikonya bagi citra perusahaan.
4.         Evaluasi Program
Proses PR selalu dimulai dari mengumpulkan fakta dan diakhiri pula dengan pengumpulan data. Untuk mengetahui apakah prosesnya sudah selesai atau belum, seorang praktisi PR perlu melakukan evaluasi atas langkah-langkah yang telah diambil (Nova, 2011:51-52).

Peran Public Relations
Menurut Ruslan (2005) mengutip Dozier dan Broom (1995) dalam (Hamsinah) jurnal Pembetukan Corporate Image Untuk Citra dan Reputasi Perusahaan bahwa peranan Public Relations di bagi empat kategori dalam suatu organisasi yaitu:
1.         Tenaga ahli (Expert prescriber)
Sebagai praktisi Public Relations yang berpengalaman dan berkemampuan tinggi dapat untuk mencari solusi dalam penyelesaian masalah hubungan dengan publiknya.
2.         Fasilitator komunikasi (Communication fasilitator)
Dalam hal ini, praktisi Public Relations bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak manajemen dalam hal untuk mendengar apa yang diinginkan dan diharapkan oleh publiknya dari organisasi yang bersangkutan, sekaligus harus mampu menjelaskan kembali keinginan, kebijakan dan harapan organisasi pada pihak publiknya. Sehingga dengan komunikasi timbal balik tersebut dilaksanakan oleh Public Relations bersangkutan dapat tercipta saling pengertian, mempercayai, menghargai, dan toleransi yang baik dari ke dua belah pihak.
3.         Proses fasilitator pemecahan masalah (Problem solving process fasilitator)
Peranan ini merupakan bagian tim manajemen untuk membantu pimpinan organisasi baik sebagai penasehat sehingga mengambil tindakan eksekusi (keputusan) dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tengah dihadapi secara rasional dan profesional.
4.         Teknik komunikasi (Communication technician)
Kegiatan public relations pada hakikatnya merupakan bagian dari tehnik kegiatan berkomunikasi dengan ciri khas komunikasi dua arah (two ways traafic communication) antara lembaga atau organisasi yang diwakilinya dengan publiknya atau sebaliknya. Setelah melakukan kegiatan komunikasi tersebut, pihak Public Relations menganalisa untuk mengetahui efeknya atau feedback, apakan berdampak baik terhadap citra, atau sebaliknya menjadi negatif sehingga kurang menguntungkan bagi perusahaan atau organisasi yang bersangkutan.
Sebagai bagian dari manajemen suatu perusahaan, maka public relations juga memiliki peranan untuk melakukan komunikasi dua arah timbal balik antara perusahaan dengan publiknya. Karenanya peranan public relations dalam manajemen suatu perusahaan terlihat dalam aktivitas pokok public relations yaitu (Ruslan, 2007:24):
1.         Mengevaluasi sikap atau opini publik,
2.         Mengidentifikasi kebijakan dan prosedur perusahaan dengan kepentingan publiknya,
3.         Merencanakan dan melaksanakan penggiatan aktivitas public relations.
Dari peranan yang tertera di atas penulis dapat menyimpulkan humas mempunyai empat fungsi peranan di antaranya yakni Expert Preciber Communication, Problem Solving Process Facilitator, Communication Fasilitator, Technician Communicator. Dalam peranan tersebut Public Relations menempati posisi penting.

Tugas Public Relations
Tugas–tugas pokok dari Public Relations perusahaan menurut Colin Couldon – Thomas dalam bukunya Public Relations Pedoman Praktis untuk PR adalah sebagai berikut (Colin Coulson, 1996:18) :
1.     Mengevaluasi kekuatan dan kelemahan perusahaan, baik perusahaan sendiri maupun perusahaan saingan juga ancaman dan peluangnya, mendiagnosis masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui sarana-sarana Public Relations, mengidentifikasi masyarakat yang dituju dan saluran-saluran yang paling efektif digunakan untuk menjangkau mereka.
2.     Memberi nasihat kepada pihak manajemen di semua tingkatan, terutama mengenai perkembangan intern dan ekstern yang mungkin dapat mempengaruhi reputasi perusahaan dalam hubungannya dengan kelompok-kelompok lain yang menjadi sasaran komunikai perusahaan.
3.    Menjadi ahli depositor karena itu harus mengetahui semua aspek komunikasi perusahaan baik intern maupun ekstern
4.        Membuat kontak dengan para pengambil keputusan ekstern yang penting
5.        Memastikan arus informasi yang efektif untuk kelompok-kelompok masyarakat yang terpilih
6.  Membentuk komisi-komisi riset untuk proyek-proyek khusus agar dapat menentukan dan memperkirakan situasi dan masalah atau mengukur efektivitas program-program dari Public Relations yang telah dilaksanakan
7.  Mengevaluasi masalah-masalah dan aktivitas Public Relations sehingga dapat memberikan laporan-laporan yang teratur kepada pihak manajemen
8.       Merencanakan dan me-manage kegiatan-kegiatan delegasi perusahaan
9.    Membantu bagian-bagian lain dengan menganalisis masalah-masalah komunikasi, menulis dan menerbitkannya
10.   Memastikan seluruh organisasi dan tidak melakukan sesuatu tindakan yang dapat mencemarkan nama baik organisasi.
Tugas Public Relations menurut Oxley yang dikutip oleh Yosal Iriantara dalam bukunya Manajemen Strategis menyebutkan bahwa tugas Public Relations adalah (Yosal Iriantara, 2004:45):
  • Memberi saran kepada manajemen tentang semua perkembangan internal dan eksternal yang mungkin mempengaruhi hubungan organisasi dengan publik-publiknya
  • Meneliti dan menafsirkan untuk kepentingan organisasi, sikap publik-publik utama pada saat ini atau antisipasi sikap publik-publik pokok terhadap organisasi
  • Bekerja sebagai penghubung antara manajemen dan publik-publiknya dan
  • Memberi laporan berkala kepada manajemen tentang semua kegiatan yang mempengaruhi hubungan publik dan organisasi.



Daftar Pustaka
Bernays, Edward. L. 2002. Public Relations. Kesingger Publishing, LLC
Colin Coulson - Thomas, Public Relation, 1996: Pedoman Praktis untuk Humas. Jakarta: Bumi. Aksara
Cutlip, Scott M. Allen H, Center. Broom, Glen M. 2005.  Effective Public Relations. Edisi 8. Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia
Jefkins, & Yadin. 2003. Public Relations. Edisi kelima Jakarta: Penerbit Erlangga
Kasali, Rhenald. 2000 Manajemen Public Relation. Jakarta: PT. Temprint
Kotler, Philip and Gary Armstrong, 2008. Prinsip-Prinsip Pemasaran. Edisi 12. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Marsefio S. Luhukay, 2008. Penerapan Manajemen Krisis di Indonesia. Jurnal Ilmiah Scriptura, Vol. 2, No. 1, 19.
Ralph Currier David dan Allan C. Filley, 1973. Principle of Management, Penerbit: Alexander Hamilton Institute. New York.
Ruslan, Rosady.. 2004 Metode Penelitian: Public Relation dan Komunikasi. Penerbit: PT. Raja Grafindo Perkasa. Jakarta
Soemirat, Soleh & Ardianto, Elvinaro. 2007, Dasar-Dasar Public Relations, Bandung, Rosdakarya.
Yosal Iriantara. 2004, Community Relations Konsep dan Aplikasi. Bandung: Sembiosa Rekatama Media
Paper ini ditulis oleh Muhammad Dzulfiqar Wiraputra Mahasiswi Prodi Perbankan Syariah IAIN Pontianak Angkatan 2014 

Media Planning

A.            Pengertian Media Planning (Media Perencanaan)
Menurut Georgen dan Michael Belch (2001),perencaan media ( media planning ) adalah the series of decision involved in delivering the promotional messange to the prospective and  or of the product or brand.(serangkaian keputusan yang terlibat dalam menyampaikan pesan promosi kepada calon pembeli dan atau pengguna produk atau merek). Dengan demikian, menurut definisi tersebut perencanaan media adalah suatu proses untuk mengambil sejumlah keputusan.perencaan media menjadi panduan bagi seleksi media.sebelum membuat perencanaan media maka diperlukan terlebih dahulu perencanaan tujuan media maka diperlukan terlebih dahulu perencanan tujuan media ( media objectives) yang spesifik dan strategi media (rencana tindakan) yang spesifik pula yang dirancang untuk mencapai tujuan.jika tujuan dan strategi media telah dirumuskan,maka informasi ini dapat digunakan dalam perencaan media.

Tugas utama Perencanaan Media Planning
Memberikan jawaban terhadap pertanyaan:
Bagaimana cara terbaik menyampaikan iklan kepada calon pembeli dari suatu produk dan jasa.
BUKAN: menjual produk atau jasa yang diiklankan
TETAPI: menyampaikan iklan atau pesan kepada khalayak yang tepat, yaitu khalayak atau sasaran yang dijabarkan dalam strategi pemasaran.

Tantangan Utama
Menyampaikan iklan secara EFEKTIF dan EFESIEN

EFEKTIF:
• Mencapai khalayak sasaran yang tepat
• Menjangkau jumlah khalayak sasaran yang memadai
• Frekuensi pemasangan yang memadai
• Jangka waktu kegiatan
• Penjadwalan kegiatan
• Jangkauan geografis
• Penempatan iklan dalam media terpilih

EFISIEN:
Murah belum tentu efisien mahal belum tentu efektif
Konsep efesiensi
• Harga yang dibayar per kotak terhadap khalayak sasaran, harga per pemirsa, pembaca, pendengar, dsb.
•  CPM (cost per mile/ thousand): biaya biaya untuk menjangkau 1000 orang.
•  CPRT/CPT (cost per rating point): biaya yang mendapatkan 1 rating point.

Tugas Utama Departemen Media:
1. Memberikan sasaran mengenai cara terbaik untuk menyampaikan komunikasi / pesan pengiklanan kepada khalayak sasaran.
2. Melaksanakan pembelian tempat dan pemasangan iklan dimedia sesuai dengan rencana yang disetujui.
3. Melaporkan hasil pemasangan iklan di media.

Peran Debt. Media dan Perusahaan dan Periklanan
Memberikan masukan pada departemen kreatif mengenai bentuk-bentuk kreatif (iklan) yang memungkinkan dengan mempertimbangkan anggaran yang ada, misalnya: media cetak, ukuran yang memungkinkan, jenis kertas yang digunakan, bentuk tampilan, B/W atau Color.

Media elektronik: durasi, bentuk-bentuk khusus (opening/closing billboard, bumper in/out, tag on, dll)Sedangkan media buying dalam kegiatan periklanan adalah merupakan aktivitas dalam memilih instusi media, memonitoring dan mengevaluasi hasil dari kegiatan media planner. Fungsi yang dijalankan adalah pertama meliputi penyediaan informasi bagi media planner misalnya rating acara atau positioning suatu media, kedua negosiasi harga pembelian dan penyewaan waktu dan ruang pada suatu media, ketiga memonitor pelaksanaan kegiatan iklan seperti menghitung jumlah target audience yang tereksposur atau memonitor jadwal pelaksanaan iklan. Keempat mengevaluasi akumulasi efektivitas kegiatan periklanan melalui media tertentu.

Fungsi yang dijalankan Media Planning
1. Penyediaan informasi bagi media planner, misalnya rating acara atau positioning suatu media.
2. Negosiasi harga pembelian dan penyewaan waktu dan ruang pada suatu media.
3. Memonitor pelaksana kegiatan iklan seperti menghitung jumlah target audience yang tereksposure atau memonitor jadwal pelaksana iklan.
4. Mengevaluasi akumulasi efetvitas kegiatan periklanan melalui media tertentu.

B. Strategi Pemilihan Media
Tujuan dari strategi pemilihan media yaitu memilih media yang pas untuk kampanye iklan dalam rangka membuat konsumen menjadi tahu, memahami, menentukan sikap, serta membeliproduk yang telah dibuat perusahaa. Adapun yang dimaksud dengan media yaitu saluran penyampaian pesan komersial kepada khalayak sasaran. Media tersebut dapat berbentuk surat kabar, TV, radio, majalah, media luar ruang, iklan transit, serta direct mail. Pemilihan tiap-tiap media dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti produk, pasar sasaran, jenis pesan, luas dan jenis distribusi, biaya, strategi iklan kompetitor, dan kelebihan serta kekurangan media tersebut. Diluar itu pemilihan media juga bergantung ada tujuan pengiklanan, yang berupa pintu gerbang dari semua aktivitas dalam program pengiklanan.
1. Prosedur Pemilihan Media
Pemilihan media membutuhkan dua keputusan yakni media apa yang akan dipakai dan sarana media apa yang dipakai. Dua metode berikut ini dapat dipakai untuk menentukan pemulihan media.

a. Biaya per seribu perbandingan kontak (cost per thousand contacts comparison)               
Dalam metode ini, pemilihan media dilaksanakan berdasar pada jumlah kontak yang terjadi tanpa memperhatikan kualitas kontaknya. Metode ini begitu populer, lantaran simpel dan mudah diaplikasikan. Walau demikian, pemakaian pemakaian metode ini dapat menyesatkan apabila pengiklan melihat kontak sama dengan eksposur. Eksposur merupakan peluang individu menangkap pesan iklan dari media tertentu. Oleh karenanya kuantitas serta kualitas eksposur keduanya sama penting bagi pengklan, yang keduanya diukur melalui:
1) Jangkauan (reach), yakni jumlah individu yang menerima eksposur dari media tertentu minimum sekali dalam periode waktu tertentu.
2) Kekerapan (frequency), yakni berapa kali individu menerima tayangan atau pesan sepanjang periode waktu tertentu.
3) Dampak (impact), yakni nilai kualitatif tayangan pada media tertentu. Contohnya iklan kosmetik lebih banyak faedah nya apabila diletakan pada majalah wanita daripada di majalah bisnis.

Ada beberapa keterbatasan yang jadi perhatian dalam metode ini, yang pertama metode ini tidak memperhitungkan kualitas khalayak. Contohnya iklan kosmetik yang dibaca oleh 1000wnita disuatu tabloid, maka nilainya akan tidak sama apabila dibaca 1000 pria. Kedua, metode ii tidak memperhitungkan peluang perhatian khalayak atau dengan kata lain tidak mempertimbangkan kekuatan dampak media pada audiensi. Contohnya, pembaca majalah remaja lebih berpeluang untuk menyaksikan iklan lebih banyak dari pada pembaca majalah ilmiah. Serta ketiga, metode ini tidak memperhitungkan kualitas editoral media yang dipakai.

b.            Pencocokan karakteristik audiens dan media
Pendekatan yang lain untuk memilih media yaitu dengan menentukan target khalayak lantas membandingkan karateristiknya dengan karateristik berbagai media. Prosedurnya yaitu sebagai berikut:

1) Menghimpun data-data detail mengenai pelanggan (siapa, dimana, kapan, serta bagaimana)
2) Mempelajari cakupan (coverage) suatu media.
3) Membandingkan kedua informasi diatas. Hasilnya baru merupakan pemilihan media pendahuluan, dikarenakan hanya dilandasi aspek cakupan.
4) Mengkaji pemilihan media pendahuluan tersebut dari aspek yang lain seperti aspek rutinitas target khalayak pada media, jenis produk, bentuk pesan, serta biaya pemakaiiann media.
5) Biaya iklan di alokasikan ke media-media yang dipilih ternmasuk juga fasilitas media masing-masing. Saran media yang harus dipilih harus mempertimbangkan beberapa aspek berikut ini:
  Tiras atau sirkulasi, yakni banyaknya unit fisik penyampai iklan.
  Khalayak, yakni jumlah orang atau individu yang bisa di rangkul suatu fasilitas media.
 Khalayak efektif, yakni beberapa individu yang betul-betul menjadi sasaran fasilitas media tersebut.
 Effective ad exposed audience, yakni bagian dari khalayak efektif yang memperhatikan iklan di fasilitas media tersebut.

1. Kriteria Evaluasi
Kriteria evaluasi ini yaitu untuk menilai objektivitas pengambil keputusan media. Kriteria-kriteria tersebut yaitu:
a. Thoroughness, yakni apakah pembuat keputusan betul-betul memperhitungkan semua aspek dalam proses pemilihan media.
b. Progressiveness, yaitu apakah media yang dipilih itu efeknya maksimal.
c. Measure-mindedness, yaitu apakah pengambil keputusan memperhitungkan berbagai berbagai aspek dari eksposur, seperti frekuensi, kualitas khalayak, jangkauan, dan lain-lain.
d. Practicality, yaitu apakah pemilihan media betul-betul berdasar pada fakta, bukanlah atas dasar emosional.
e. Optimistic, apakah dari proses pemilihan media tersebut memberi masukan untuk pengalaman pengambil keputusan.

2. Konsep Perencanaan media untuk program komuikasi pemasaran
Komunikasi pemasaran merupakan aspek penting dalam keseluruhan misi pemasaran serta penentu suksesnya pemasaran. Komunikasi dan pemasaran merupakan hal yang tak terpisahkan.
Menurut Schultz komunikasi pemasaran yaitu:

“the procces of managing all source of information about a product or service to which a customer of prospect is exposedwhich behaviourly moves the customer toward a sales and mantains customer loyalty” (proses dari manajemen seluruh sumber informasi tentang sebuah produk atau jasa yang ditunjukan kepada pelanggan atau prospek yang diekspos dengan tujuan untuk membawa pelanggang pada penjualan dan memelihara loyalitas pelanggan).

Sedangkan pengertian komunikasi pemasaran menurut Kotler adalah “sarana yang digunakan perusahaan dalam upaya untuk menginformasikan, membujuk, dan meningatkan konsumen langsung atau tidak langsung tentang produk dan merk yang mereka jual”

Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi pemasaran adalah suatu bentuk pendekatan pemasaran baru yang dilakukan oleh pihak perusahaan kepada pelanggan dalam upaya membujuk dan mengingatkan konsumen mengenai produk dan merek yang merka jual guna mengembangkan hubungan perusahaan dengan konsumen sehingga dapat memelihara loyalitas konsumen.

Menurut four As (The American Association of Advertising Agency) IMC adalah:

“Konsep perencanaan komunikasi pemasaran yang mengakui nilai tambah rencana komprehensif  yang mengkaji peran strategis masing-masing bentuk komunikasi, misalnya iklan, direct response, promosi penjualan, dan humas, dan dampak komunikasi maksimal melalui pengintegrasian pesan.”
Setelah memilih pesannya, tugas pengiklan berikutnya adalah memilih media untuk menyampaikannya. Tahap-tahapnya adalah (1) memutuskan jangkauan yang diinginkan, frekuensi, dandampaknya; (2) memilih di antarajenis-jenis media utama, memilihsarana media khusus; (3) memutuskanwaktu media yang tepat dan memutuskan alokasi media secara geografis. Kemudian, (4) hasilkeputusan-keputusan ini perlu dievaluasi. 

1.            Memutuskanjangkauan, frekuensi, dandampak.
Pemilihan media adalahmencari media yang paling berbiaya efektif untuk menyampaikan jumlah dan jenispaparan yang diinginkan kepada audiens sasaran.
2.            Memilih di antarajenis-jenis media utama

Perencanaan media harus mengetahui kemampuan jenis-jenis media utama untuk menghasilkan jangkauan frekuensi dan dampak.
Perencanaan media menentukan pilihan mereka di antara kategori media dengan mempertimbangkan variabel berikut:

Kebiasaan media sasaran. Radio dan televisi adalah media yang paling efektif untuk menjangkau remaja.Ciri-ciri produk. Jenis-jenis media memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk menghasilkan peragaan. Visualisasi, penjelasan, tingkat kepercayaan, dan warna. Kamera polaroid paling baik diperagakan di televisi.Ciri-ciri pesan. Peran yang berisi sangat banyak data teknis mungkin membutuhkan masalah.Biaya. Televisi sangat mahal sedangkan iklan koran relatif murah.

C.            Konsep Perencanaan Media untuk Program Komunikasi Pemasaran
Perencanaan media meliputi proses penyusunan rencana penjadwalan yang menunjukkan bagaimana waktu dan ruang periklanan akan mencapai tujuan pemasaran. Perencanaan media meliputi koordinasi tiga tingkat perumusan strategi: strategi pemasaran, strategi periklanan, dan strategi media. Strategi pemasaran menyeluruh yang terdiri dari identifikasi pasar sasaran dan sleksi bauran pemasaran yang member tekanan dan arah pilihan pemasangan iklan serta strategi media. Strategi periklanan meliputi tujuan periklanan, anggaran, dan pesan serta strategi media yang secara alamiah biasanya lebih luas dari keseluruhan strategi pemasaran. Strategi media perlu dikembangkan dari strategi periklanan yang lebih umum.

Strategi media itu sendiri terdiri dari empat kegiatan yang saling berkaitan, yakni:
1.            Memilih audiens sasaran
Syarat utama yang harus dipenuhi agar strategi media berhail adalah menentukan audiens sasaran. Kegagalan untuk mengidentifikasikan audiens dengan tepat dapat menyebabkan hilangnya exprosure, yaitu beberapa calon nonpembeli dihadapkan pada iklan-iklan sementara beberapa calon utama tidak.
2.            Menentukan tujuan media
Aspek kedua dari strategi media adalah menentukan tujuan khusus. Lima tujuan berikut merupakan dasar perencanaan media; jangkauan, frekuensi, bobot, kontinuitas, dan biaya.
3.            Perangkat lunak perencanaan media

Perencana media menghadapi tugas yang sulit untuk melakukan tradeoff yang tepat di antara tujuan-tujuan yang kadang-kadang bertentangan (jangkaun, frekuensi, dan sterusnya). Namun, secara harfiah ada ribuan jadwal periklanan yang mungkin dapat diseleksi tergantung pada bagaimana berbagai media dan sarana media digabungkan. Untunglah, tugas yang menakutkan ini dipermudah dengan adanya model-model terkomputerisasi untuk membantu para perencana media dalam memilih media. Model-model ini pada hakikatnya berusaha mengoptimalkan tujuan, atu fungsi objektif (misalnya, memilih suatu jadwal yang menghasilkan tingkat jabngkauan yang terbesar) dengan jumlah kendala sehingga tidak melebihi batas atas anggaran iklan. Suatu program computer kemudian mencari solusi yang mungkin dan memilih jadwal media tertentu yang akan mengoptimalkan fungsi bjektif dan memenuhi semua kendala khusus.

Daftar Pustaka
Sissors, Jack Zanville dan Roger B. Baron, Advertising Media Planning: McGraw-Hill, 2002.
Surmanek, Jim, Media planning – a practical guide: McGraw-Hill Professional, United States, 1996.
Shimp, A. Terence. 2000. Periklanan Promosi Aspek Tambahan Komunikasipemasaran Terpadu. Jilid 1 Alih bahasa: Reyvani Sharial. Erlangga. Jakarta.

Sutisna. 2001. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasara. PT. Remaja Rosdakarya Bandung.
Paper ini ditulis oleh Guswarini Mahasiswi Prodi Perbankan Syariah IAIN Pontianak Angkatan 2014.