Klik: Hermawan Kartajaya

Empowering customer mengacu pada upaya brand memberi kekuasaan kepada customer. Mereka harus dibuat seolah-olah memiliki brand itu sendiri (own the brand)

Klik: Peter F. Drucker

Hal paling penting dalam komunikasi adalah mendengarkan dan memahami apa yang tidak dikatakan.

Klik: Tony Robbins

Kualitas hidup Anda adalah kualitas komunikasi Anda.

Klik: Elizabeth Goenawan Ananto

PR merupakan ujung tombak dalam hal pemetaan kondisi publik dan perusahaan

Klik: Prita Kemal Gani

PR bukanlah masalah cantik atau gagahnya saja, namun lebih kepada kepiawaian, kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi, memiliki wawasan yang luas dan skill-skill yang mendukung profesinya

Saturday, November 4, 2017

Creative Planning

Iklan sangatlah dibutuhkan dalam mempromosikan suatu produk di benak masyarakat, tentu saja fungsinya untuk membuat brand image mengenai produk yang kita jual di benak konsumen. Namun, dalam beriklan pun tentu perlu banyak strategi yang harus dilakukan. Salah satu strategi tersebut ialah dengan menggunakan iklan kreatif dan berbeda dari yang lainnya. Iklan tersebut bisa dilakukan melalui dua cara, baik iklan melalui media cetak maupun elektronik. Kreatifitas iklan adalah how to say-nya sebuah pesan periklanan atau cara yang dilakukan untuk mengkomunikasikan pesan iklan (What to say) kepada audiens.
Roman, Maas & Nisenholtz (2005) mengatakan bahwa mengiklankan suatu barang atau jasa yang ditawarkan, dibutuhkan pula strategi untuk mendapatkan perhatian dari calon konsumen. Selain itu, produk yang ditawarkan akan mengalami persaingan dengan produk lain.
Strategi kreatif sangat dibutuhkan untuk menciptakan suatu iklan yang efektif bagi orang kreatif serta untuk memberikan hasil yang terbaik bagi klien atau pengiklan. Strategi dibutuhkan untuk menciptakan iklan yang dapat menginformasikan, mempersuasi, dan mengingatkan. Oleh sebab itu, strategi sangat diperlukan untuk kelancaran proses promosi produk. Proses iklan yang panjang, nantinya akan menjadi sebuah iklan yang enak untuk ditonton. Hasil dari iklan tersebut pasti akan mempengaruhi awareness. Awareness merupakan tingkat kesadaran. Awareness dinilai penting dalam menciptakan pembelian tidak direncanakan karena konsumen sering berbelanja secara impulsif berdasarkan apa yang diingatnya pertama kali, maka apabila tingkat kesadaran (awareness) tinggi, kemungkinterjadinya pembelian tidak direncanakan akan tinggi terhadap barang dagangan tersebut
1.    Creative Brief
Secara ringkas, konsep kreatif (creative brief) adalah dokumen yang dipersiapkan oleh seorang eksekutif biro iklan terhadap seorang klien tertentu, yang dimaksudkan baik untuk memberi inspirasi pada para copywriter maupun untuk menyalurkan upaya-upaya kreatif mereka. Suatu ringkasan kreatif yang betul-betul berharga mensyaratkan bahwa dokumen tersebut dikembangakan dengan pemahaman penuh tentang kebutuhan-kebutuhan periklanan klien. Ringkasan tersebut juga mengharuskan akuisisi data riset pasar tentang kondisi persaingan serta persepsi terkini konsumen tentang merek yang diiklankan beserta saingannya.
Untuk menstimulasi tujuan yang besar yang tertuang dalam rangkuman kreatif atau creative brief yang dibuat untuk agensi dalam menciptakan iklan. Rangkuman kreatif merupakan jembatan strategi dengan kreatifitas periklanan, rangkuman kreatif mewakili situasi sekarang, kompetisi, kondisi pasar dan pertimbangan media. Rangkuman itu menjadi strategi hidup dan memberikan pandangan penting bagi tim kreatif untuk menetapkan strategi dan menentukan ide penjualan utama, yang akan menjadi tema pusat kampanye periklanan. (Madjadikara Agus, 2005)
Strategi didefinisikan dengan jelas untuk menstimulasi tujuan yang besar yang tertuang dalam rangkuman kreatif atau creative brief yang dibuat untuk agensi dalam menciptakan iklan. Rangkuman kreatif merupakan jembatan strategi dengan kreatifitas periklanan, rangkuman kreatif mewakili situasi sekarang, kompetisi, kondisi pasar dan pertimbangan media. Rangkuman itu menjadi strategi hidup dan memberikan pandangan penting bagi tim kreatif untuk menetapkan strategi dan menentukan ide penjualan utama, yang akan menjadi tema pusat kampanye periklanan.
Masing-masing agensi periklanan mempunyai model rangkuman kreatif yang berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan produk yang akan di iklankan. Tidak ada model pemasaran yang begitu kaku sehingga anda tak dapat berubah. Tidak ada rumus pemasaran yang begitu ketat sehingga setiap perubahan dilarang. Hanya pedoman strategi tidak boleh berubah sedangkan pedoman taktisnya berupa rangkuman kreatif boleh berubah (Batey, 2003).
Hal-hal yang biasanya terdapat dalam sebuah rangkuman kreatif atau creative brief (Roman, Maas & Nisenholtz, 2005) yaitu:
a.    Tujuan
Aspek pertama yang paling penting sebelum merumuskan strategi periklanan adalah sebuah sasaran atau tujuan. Tujuan itu tergantung pada apa yang ingin dicapai oleh klien dalam kampanye. Misalnya, membangun kesadaran pada suatu merek, mengkomunikasikan informasi, membuat perilaku atau membangun persepsi.
b.    Menyatakan  masalah pemasarannya
c.     Masalah biasanya ditemukan setelah dilakukan analisis SWOT.
d.    Target Audience
e.   Identifikasi audience sasaran dengan segmen yang sempit berdasarkan faktor demografi, geografis, psikologis, perilaku konsumen dan pola berpikir dan bertindak. Yang harus jadi pertimbangan adalah, semakin luas target Audience maka pesan akan semakin lemah.
f.     Keuntungan kunci atau ide pesan utama
g.  Satu ide tunggal yang akan selalu diingat target setelah melihat iklan. Ide penjualan utama atau tema kampanye berdasarkan keuntungan kunci.
h.    Alasan konsumen untuk percaya
i.   Benefit yang berbeda dari kompetitor yang juga mengatakan hal yang sama dalam ide penjualan utama atau tema kampanyenya, atau sebuah pernyataan yang bertujuan tunggal dari sudut pandang konsumen yang menunjukkan mengapa konsumen membeli atau tidak membeli produk atau merek tersebut.
j.     Gaya / tone
k. Daya tarik yang digunakan untuk mewakili kepribadian merek. Ciri khas komunikasi yang disampaikan harus bisa membawa atau mewakili pesan periklanan.
l.     Dampak yang diharapkan
m.  Pengaruh yang diharapkan melalui periklanan dari khalayak sasaran dan bagaimana iklan ini dapat meyakinkan konsumen. (Shimp Terence, 2000)

2.    Tujuan Creative Brief
Creative Brief dibuat atau diciptakan dengan tujuan memperkenalkan, membedakan, atau memosisikan produk dalam benak konsumen untuk menghadapi persaingan. Konsep harus kreatif dan simpatik agar tujuannya tercapai, yaitu menjual. Pakar periklanan Amerika Serikat asal Inggris, David Ogilvy, berkata: “it is not creative unless it sells.” Akan tetapi “menjual” yang bahasa Inggrisnya “to sell” sebenarnya tidak harus selalu berarti “transaksi” yang berhubungan dengan uang. Kalau pesan dari iklan itu dapat “ditangkap” oleh sasaran, dipahami, bahkan dipercaya (the message has got across), iklan itu bisa saja dianggap berhasil (the message well sold).

3.    Mengembangkan Creative Brief
Creative atau copywriter adalah orang-orang yang menulis naskah iklan harus berupaya menghadirkan bakat kreatif mereka untuk mengembangkan periklanan yang efektif. Orang-orang kreatif kerap mengeluh bahwa berbagai laporan riset pemasaran serta aturan-aturan lainnya menghalangi mereka untuk dapat mengekspresikan kreativitasnya secara total. Periklanan adalah suatu bisnis dengan tanggung jawab untuk menjual produk. Meski riset telah menunjukkan bahwa naskah periklanan yang didasarkan pada teori implisit para copywriter sendiri tentang bagaimana periklanan yang berhasil terhadap konsumen, mereka tidak memiliki kemewahan untuk menciptakan keteriakatan dalam suatu pencarian kreatif. Tujuan akhir mereka adalah menulis naskah iklan yang memengaruhi pengharapan, sikap, dan akhirnya perilaku pembelian dari konsumen.
Di beberapa biro iklan, tugas copywriter diarahkan oleh suatu kerangka kerja yang dikenal sebagai ringkasan kreatif (creative brief), dimana suatu dokumen didesain untuk memberi inspirasi kepada para copywriter untuk menyalurkan upaya-upaya kreatif dalam melayani kepantingan klien. (Madjadikara, Agus, 2005)

4.    Pengembangan pasan kedalam eksekusi Kreatif
Eksekutif kreatif adalah cara bagaimana suatu daya tarik iklan disajikan. Iklan yang memiliki daya tarik dan memiliki pesan yang bermakna merupakan hal yang jelas penting, namun cara bagaimana suatu eksekusi kreatif iklan dilaksanakan adalah tidak kalah pentingnya.
Suatu pesan iklan dapat disajikan atau dieksekusi dalam berbagai macam cara yaitu :
a.    Iklan Pesan Faktual
b.    Jenis iklan ini menekankan pada penyajian atau presentasi pesan iklan mengenai suatu Iklan Bukti Ilmiah
c.     Sebagai variasi dari iklan pesan factual, pemasang iklan terkadang juga menampilkan bukti ilmiah atau bukti teknis mengenai manfaat, kegunaan, keampuhan, atau kehalalan suatu produk yang tengah diiklankan.
d.    Iklan Demonstrasi
e.    Iklan demonstrasi dirancang untuk menggambarkan keuntungan utama dari suatu barang atau jasa yang diiklankan dengan cara menunjukan hal penggunaan yang sesungguhnya.
f.     Iklan Perbandingan
g.    Perbandingan merek juga dapat digunakan sebagai dasar bagi eksekusi kreatif iklan.
h.    Iklan Kesaksian
i.      Banyak pemasang iklan lebih menyukai pesan iklannya disampaikan melalui cara kesaksian (testimony).  
j.      Iklan Cuplikan Kehidupan
k. Salah satu format penyajian iklan yang digunakan secara luas adalah iklan mengenai cuplikan kehidupan yang dirancang berdasarkan pendekatan penyelesaian masalah.
l.     Animasi
m. Melalui teknik ini, gambar animasi dibuat oleh seniman atau menggunakan komputer. Penggunaan teknik animasi untuk iklan semakin meningkat menyusul perkembangan teknologi grafis berbasiskan komputer serta inovasi teknologi lainnya.
n.    Simbol Personalitas
o. Dengan menggunakan suatu karakter sentral atau menggunakan seseorang atau tokoh yang menjadi symbol dari suatu produk.
p.  Fantasi
q. Iklan fantasi sangat cocok digunakan pada media TV karena penonton dapat turut berfantasi bersama tayangan iklan yang disaksikannya.
r.     Dramatisasi
s.  Teknik ini lebih cocok untuk media TV. Iklan dramatisasi menekankan pada penyampaian cerita pendek pada akhir cerita produk tengahj dipromosikanj, tampil sebagai bintangnya.
t.     Humor
u.    Iklan dengan tema humor sering kali menjadi iklan yang popular dan paling diingat oleh audiens.
v.    Kombinasi
w. Dalam hal ini, berbagai iklan yang dieksekusi memerlukan tenaga kreatif iklan yang bertanggungjawab untuk menentukan apakah akan menggunakan satu atau menggambungkan berbagai teknik eksekusi kreatif tersebut.

5.    Pengembangan exsekusi kreative kedalam berbagai Marketing Communication Tools
Dalam komunikasi pemasaran menurut Chris Fill (2005) terdapat Maketing Communicatioon Tools yang digunakan dalam berbagai kombinasi dan fungsi yang berbeda untuk berkomunikasi dengan target audiens atau publik. Berikut kelima Marketing Communication Tools tersebut yaitu :
a.    Advertising
b.    Sales Promotion
c.     Personal Selling
d.    Public Relations
e.    Direct Marketing

a.    Periklanan (advertising)
Merupakan suatu bentuk dari presentasi non- personal dan promosi dari suatu ide, barang atau jasa yang tidak gratis (berbayar) dan dilakukan oleh sponsor (perusahaan) yang teridentifikasi. Karakteristik dari iklan sendiri adalah bersifat non- personal, komunikasi satu arah, ada sponsor (khalayak yang peduli), dan bertujuan untuk mengubah sikap dan perilaku. Biasanya advertising itu dipakai ketika suatu perusahaan ingin mengubah customer dari unaware menjadi aware terhadap suatu brand. Promosi nonpersonal tersebut bisa dalam bentuk gagasan, barang, atau jasa. Contoh: Iklan media cetak, iklan media elektronik, brosur, buklet, poster, leaflet, billboard, dan lain-lain.

b.    Promosi penjualan (sales promotion)
Sales promotion merupakan istilah singkat dari penawaran nilai tambah dan berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong pembelian atau penjualan suatu produk atau jasa dan dirancang untuk menggerakkan dan mempercepat respons dari kosumen. Pada konsepnya, sales promotion digunakan untuk memotivasi konsumen agar melakukan aksi dengan membeli produk yang dipicu dengan adanya penawaran produk dalam jangka waktu terbatas. Contoh: Kupon, hadiah, diskon, produk sample, pameran dagang, games, dan lain-lain.

c.     Penjualan personal (personal selling)
Personal Selling adalah komunikasi dua arah dimana seorang penjual menjelaskan fitur dari suatu brand untuk kepentingan pembeli. Dalam Personal Selling, dilibatkan komunikasi yang sifatnya tatap muka dan kegiatannya pada sekaramg ini terfokus pada pemecahan masalah dan penciptaan nilai bagi customer (lebih dikenal sebagai partnership). Dimensi dari partnership ini adalah, seorang sales person harus memahami konsumennya dengan baik.  Personal selling sendiri merupakan bagian dari direct marketing, namun perbedaan dasarnya adalah dalam personal selling, perusahaan yang dijembatani sales person berinteraksi secara tatap muka dengan customer. Interaksi langsung dengan satu calon pembeli atau lebih untuk melakukan presentasi dalam rangka mensukseskan penjualan dan membangun hubungan dengan pelanggan. Contoh: Presentasi penjualan, pameran dagang, dan program insentif.

d.    Hubungan masyarakat dan publisitas (public relation and publicity)
Membangun hubungan baik dengan publik terkait untuk memperoleh dukungan, membangun “citra perusahaan” yang baik, dan menangani atau mengklarifikasi isu, cerita, dan peristiwa yang dapat merugikan. PR dalam konsepsi IMC melakukan pekerjaan yang sangat luas dan  beragam, tidak hanya bertugas mengumpulkan opini publik saja, tetapi juga bertugas mengatur corporate brand dan menjaga reputasinya.Sedangkan publisitas adalah stimulasi nonpersonal terhadap permintaan barang, jasa, ide, dan sebagainya dengan berita komersial yang berarti dalam media massa, dan tidak berbayar untuk mempromosikan dan untuk melindungi citra perusahaan atau produknya. Contoh: Seminar, press release, sponsorship, Paper Integrated Marketing Communication & Penerapannya Pada Perusahaan Astrid Agustini - 170610120021 majalah perusahaan, events, lobbying, dan lain-lain. (Sulaksana uyung, 2003)

e.    Pemasaran langsung (direc marketing)
Pada saat perusahaan ingin berhubungan langsung dengan konsumen tanpa melalui retailer, maka digunakanlah direct- response marketing. Direct marketing merupakan salah satu fungsi IMC yang terdiri dari front-end dan back end operations. Front-end menyusun harapan-harapan dari konsumen yang mencakup the offer (yakni segala sesuatu yang nyata maupun tidak dijanjikan oleh perusahaan guna mencapai perilaku konsumen yang diinginkan  perusahaan, misal : penawaran harga khusus, garansi, dll), the database (mendapatkan data konsumennya dan menggunakan data itu untuk penawaran selanjutnya) dan the response (memberikan respon yang baik terhadap konsumen, misal : dengan membuat toll-free-line untuk layanan konsumen) sedangkan back end berusaha mempertemukan harapan konsumen dengan produk, mencakup fulfillment (yakni membuat produk atau informasi yang diminta oleh konsumen cocok, efektif dan tepat waktu). Contoh: Katalog, surat, telemarketing, fax mail, internet, dan lain-lain.

Sebelum integrated marketing communication dikenal, perusahaan dan agensi percaya bahwa untuk mengirimkan pesan kepada suatu kelompok target audiens tertentu diperlukan marketing communication tools yang spesifik dan berbeda. Untuk mencapai tujuan tertentu maka digunakan marketing communication tools yang spesifik. Misalnya untuk mencapai brand awareness digunakan advertising, sale promotions untuk meningkatkan penjualan atau penggunaan public relations untuk menciptakan image yang baik terhadap suatu brand. (Fill, 2009: 257)

Kemudian disadari oleh perusahaan dan agen-agen tersebut bahwa penggunaan marketing communication tools secara sinergis dan terkoordinasi dapat memberikan hasil atau dampak yang lebih besar dari pada penggunaan marketing communication tools yang terpisah-pisah atau tidak terkoordinasi, sehingga penggunaan marketing communication tools secara tradisional ini kemudian bergeser menjadi pengguna marketing communication tools yang terintegritasi dan sinergis, yang kemudian disebut integrated marketing communication (IMC). (Shimp, 2010: 9)

DAFTAR PUSTAKA
Madjadikara, Agus S. Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan Bimbingan Praktis Penulisan Naskah Iklan (Copywriting). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2005.
Shimp, Terence A. Periklanan Promosi Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jakarta: Erlangga. 2000.
Sulaksana, Uyung. Integrated Marketing Communication. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2003. 
Paper ini ditulis oleh Dwi Ardianto Mahasiswi Prodi Perbankan Syariah IAIN Pontianak Angkatan 2014.

Friday, November 3, 2017

Alat Komunikasi Pemasaran

Dalam era globalisasi perkembangan pesat terjadi pada hampir semua sektor dan berbagai perubahan sering mewarnai bahkan ada pepatah yang mengatakan sesuatu yang pasti di dunia ini adalah perubahan. Kemajuan pada berbagai bidang seperti ilmu pengetahuan, telekomunikasi, teknologi informasi, jaringan transportasi dan sektor-sektor kehidupan lainnya, mengakibatkan arus informasi semakin mudah dan lancar mengalir kepada setiap individu dan kelompok yang membutuhkannya. Seorang individu dan kelompok secara bebas berhak memperoleh informasi bermanfaat untuk menunjang aktivitas usahanya, serta bersaing secara ketat untuk meningkatkan nilai perusahaan atau organisasinya.

Komunikasi pemasaran (marketing communication) dalam implementasi program strategi pemasaran merupakan tahapan proses atau langkah-langkah yang tidak dapat dipandang remeh, hal ini disebabpkan sebagus apapun rencana strategi pemasaran yang dirancang sesuai dengan kondisi dan posisi persaingan industrinya suatu produk, maka bila proses komunikasi pemasaran tidak dijalankan secara efektif dan efisien pasar sasaran (target market) tidak tahu bahwa produk yang dinginkan dan diminta konsumen beredar di pasar. Menurut Philip Kotler & Kevin Lane Keller (2009), komunikasi pemasaran adalah sarana dimana perusahaan berusaha menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung, tentang produk dan merek yang dijual. Intinya komunikasi pemasaran mempresentasikan suara perusahaan dan mereknya serta merupakan sarana dimana perusahaan dapat membuat dialog dan membangun hubungan dengan konsumen. Kotler & Kevin (2009), menegaskan bahwa komunikasi pemasaran juga banyak melaksanakan fungsi bagikonsumen.

Komunikasi pemasaran dapat memberitahu atau memperlihatkan kepada konsumen tentang bagaimana dan mengapa produk itu digunakan, oleh orang macam apa, serta dimana dan kapan. Konsumen dapat mempelajari tentang produk apa, siapa yang memproduksi, mereknya apa, cocok dikonsumsi oleh siapa, apa keunggulan nya, dapat diperoleh di mana, dan bagaimana caranya memperoleh produk itu. Dengan demikian koumilasi pemasaran memiliki peren yang sangat penting bagi perusahaan untuk mengkomunikasikan produk yang dipasarkan kepada pasar sasaran secara lebih luas, bahkan dapat berkontribusi terhadap ekuitas merek dengan menanamkan merek dalam ingatan dan menciptakan citra (image) merek, serta mendorong penjualan, dan memperluas pasar. Kontribusi komunikasi pemasaran dalam membentuk ekuitas merek melalui bauran komunikasi komunikasi (marketing communication mix) dan kerangka dasar komunikasi umum (iklan, promosi penjaualan,acara dan pengelaman, hubungan masyarakat dan publisitas, pemasaran langsung & pemasaran intekaktif, dari mulut ke mulut, dan penjualan personal) akan memben tuk pemahaman konsumen terhadap : Kesadaran merek; citra merek; respon merek; dan hubungan merek.

A. Marketing Comunication

Komunikasi pemasaran merupakan bentuk komunikasi yang bertujuan untuk memperkuat strategi pemasaran dan aplikasi komunikasi yang bertujuan untuk membantu kegiatan pemasaran sebuah perusahaan. Selain itu, kegiatan komunikasipemasaran adalah kegiatan yang ditujukan untuk memperkenalkan, menjalin maupun menciptakan interaksi antara perusahaan dengan mitra usaha maupun konsumen danmerupakan suatu usaha untuk mengkomunikasikan perusahaan, produk maupun jasakepada pihak luar baik mitra usaha, supplier maupun konsumen.

Komunikasi pemasaran (Bahasa Inggris: marketing communication) adalah sarana di mana perusahaan berusaha menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung tentang produk dan merek yang dijual. Komunikasi pemasaran mempresentasikan "suara" perusahaan dan mereknya serta merupakan sarana di mana perusahaan dapat membuat dialog dan membangun hubungan dengan konsumen.

Menurut Philip Kotler & Kevin Lane Keller (2009), komunikasi pemasaran adalah sarana dimana perusahaan berusaha menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung, tentang produk dan merek yang dijual. Intinya komunikasi pemasaran mempresentasikan suara perusahaan dan mereknya serta merupakan sarana dimana perusahaan dapat membuat dialogh, dan membangun hubungan dengan konsumen. Komunikasi pemasaran merupakan proses manajemen dimana sebuah organisasi dapat berkomunikasi dengan khalayaknya. Tujuan utama dari proses komunikasi pemasaran ini adalah untuk memposisikan organisasi dalam pikiran dalam masing-masing anggota dari target khalayak.(Chris Fill, 1999: 14).

Komunikasi pemasaran memiliki alat-alat untuk promosi yang disebut dengan marketing communication tools untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu dan mendorong seseorang untuk menyukai mereknya yang terdiri dari advertising, sales promotion, public relations, personal selling dan direct marketing (pemasaran langsung). (Hughes & Fill, 2005: 33).Suatu perusahaan perlu melakukan strategi, yaitu suatu cara untuk mencapai tujuan (Durianto dkk, 2001: 187).

Strategi dalam suatu perusahaan perlu mengkoordinasikan semua elemen dari marketing communication tools (Hughes & Fill, 2005: 35). Suatu kampanye yang dikoordinasikan harus direncanakan dan diseragamkan dalam rangka untuk mengkomunikasikan pesan yang sama (Hughes & Fill, 2005: 39). Dengan mengkombinasikan lebih dari satu elemen marketing communication tools, maka pesan-pesan yang disampaikan akan lebih powerful (Hughes & Fill 2005: 36). Maka, perusahaan perlu melakukan pengintegrasian pesan-pesan kampanyenya sehingga menjadi lebih efisien dan konsisten melalui Integrated Marketing Communications atau dikenal denganIMC. (Sulaksana, 2007: 30).

Four As (the American Association of Advertising Agency), menyatakan bahwa IMC merupakan konsep perencanaan komunikasi pemasaran yang mengakui nilai tambah rencana komprehensif yang mengkaji peran strategis masing-masing bentuk komunikasi (misalnya iklan, sales promotion, direct marketing, public relation, personal selling) dan memadukannya untuk meraih kejelasan, konsistensi, dan dampak komunikasi maksimal melalui pengintegrasian pesan (Sulaksana, 2007: 30).

Sedangkan menurut Chris Fill terdapat marketing communication tools yang digunakan dalam berbagai kombinasi dan fungsi yang berbeda untuk berkomunikasi dengan target audiens atau publik. Berikut lima marketing communiation tools, sebagai berikut:

1. Advertising
2. Sales promotion
3. Personsl selling
4. Public relations
5. Direct marketing

Menurut Kothler (2006:536) komunikasi pemasaran terpadu terdiri dari enam modus utama komunikasi yaitu:
1. Periklan (Advertising) – Setiap bentuk presentasi nonpersonal yang dibayar dan promosi ide, barang, atau jasa oleh sponsor yang teridentifikasi. Contoh: Iklan cetak dan broadcast Kemasan–luar, kemasan sisipan dll.
2. Promosi penjualan (Sales promotion) – Berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong uji coba atau pembelian produk atau jasa. Contoh: Kontes, permainan, undian dll
3. Hubungan masyarakat dan publisitas (public relations and publicity) -Berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan atau melindungi citra perusahaan atau produk individualnya. Contoh: Seminar, Annual reports dll.
4. Pemasaran langsung (Direct marketing)- Penggunaan mail, telepon, fax, e-mail, atau Internet untuk berkomunikasi secara langsung dengan atau meminta respon atau dialog dari pelanggan tertentu dan prospek. Contoh: laporan tahunan, pameran dan perdagangan dl.
5. Penjualan personal (Personal selling) – Interaksi dengan satu atau lebih calon pembeli untuk tujuan membuat presentasi, menjawab pertanyaan, dan pengadaan pesanan. Contoh: telemarketing dll

B. Strategi Hard-Sell Promotion

Hard Sell adalah strategi penjualan atau promosi dengan menyampaikan pesan marketing secara langsung kepada konsumen. Contohnya : iklan, dari mulut ke mulut, surat kabar(koran), majalah, iklan televisi, iklan internet, spanduk, brosur atau papan reklame yang ada di pinggir-pinggir jalan. Hard Selling atau penjualan langsung merupakan sebuah strategi untuk mempromosikan produk atau jasa yang ditunjukan untuk mempengaruhi tindakan konsumen. Hard Selling lebih menekankan kepada pengambilan keputusan yang didasarkan atas rasional atau adanya keuntungan tambahan yang diberikan suatu produk.
Tujuan dari hard selling adalah terciptanya suatu penjualan. Kelebihan hard selling adalah mampu menciptakan penjualan dengan segera. Dalam praktiknya, Hard Selling direpresentasikan dalam bentuk penjualan pribadi (Personal Selling), promosi penjualan (sales promotion), penjualan langsung (direct response marketing). Contoh dari Hard Selling adalah sebagai berikut:
1. Ketika kita pergi ke tempat ramai seperti Mall, kita akan menemukan banyak sales seperti sales mobil, kartu kredit, temat makan, parfum dll. Teknik tersebut marupakan hard selling yang menciptakan penjualan.
2. Menjelang akhir tahun atau bulan – bulan yang berkesan, biasanya banyak promo besar – besaran (Sales Promotion), tujuan dari promo tersebut adalah untuk menciptakan penjualan.

C. Strategi Hard-Sell Promotion dalam Kegiatan Komunikasi Pemasaran Terpadu

Komunikasi pemasaran terpadu adalah sebuah proses perencanaan marketing komunikasi yang memperkenalkan konsep perencanaan komprehensif untuk mengevaluasi peranan strategis dari berbagai elemen komunikasi pemasaran, seperti public relation, advertising, direct selling, sales promotion, dan interactive marketing, untuk memberikan kejelasan, konsistensi, sertapengaruh komunikasi yang maksimum. Komunikasi Pemasaran Terpadu sering disebut dengan IMC merupakansebuah proses strategi bisnis dalam mengelola hubungan dengankonsumen yang intinya untuk menggerakkan brand value.
Tujuan yang ingin dicapai IMC adalah untuk mempengaruhi masyarakat dengan elemen promosinya sampai ketingkat kognisi, affeksi, dankonasi. Elemenpromosi yang digunakan terbagi atas soft sell dan hard sell.
Soft sell berupa advertising, public relation, CSR, interactive marketing yang bertujuan untuk memengaruhi konsumen ketingkat kognisi dan affeksi. Sedangkan, hardsell berupa personal selling, direct marketing, sales promotion untuk memengaruhi konsumen ketingkat konasi. Penulis akan terfokus pada elemen promosi yang hard-sell. Contoh; TVC Jamsostek versi pensiunan. Meski sederhana, iklan itu sangat dramatis. Iklan tersebut menggambarkan seorang laki-laki tua yang berbicara secara monolog dengan logat Betawi yang kental. Pada bagian lain, ditampilkan sang kakek tersebut tengah bermain-main dengan cucunya. Story board iklan tersebut dibuat hard sell, coba simak kata-kata yang dilontarkan lelaki tersebut: “Untung ikut Jamsostek, ada jaminan hari tua, jaminan pemeliharaan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, dan banyak keuntungan lainnya. Bisa buntung tua kagak punya Jamsostek.”Adapun elemen dari hard-sell promotion yang akandi bahas sebagai berikut:

1.     Personal selling(penjualan pribadi)
Kegiatan personal selling merupakan bagian dari kegiatan promosi yaitu cara untuk memperkenalkan dan menarik minat konsumen terhadap produk yang di tawarkan secara tatap muka. Promosi ini merupakan salah satu variable di dalam marketing mix yang sangat penting untuk dilaksanakan oleh perusahaan dalam menawarkan produknya. Personal selling merupakan alat promosi yang sifatnya secara lisan, baik kepada seseorang maupun lebih calon pembeli dengan maksud untuk menciptakan terjadinya transaksi pembelian yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, dengan menggunakan manusia sebagai alat promosinya. Komunikasi yang dilakukan kedua belah pihak bersifat interaktif atau komunikasi dua arah sehingga penjual dapat langsung memperoleh tanggapan sebagai umpan balik tentang keinginan dan pendapat komsumen. Penyampaian berita atau proses komunikasi dapat dilakukan dengan sangat fleksibel karena dapat disesuaikan dengan situasi yang ada.Interaksi ini memberikan fleksibilitas dimana penjual dapat melihat atau mendengar respon atau reaksi dari calon pembeli dan menyesuaikannya dengan pesan penjualannya.

2.     Direct marketing(penjualan langsung)
Penjualan langsung tidak terbatas hanya dalam bentuk direct mail atau katalog. Ia mencakup juga aktifitas seperti : manajemen database konsumen, penjualan langsung, telemarketing dan iklan penjualan langsung melalui direct mail, internet dan berbagai media lainnya. Contoh perusahaan yang sering memanfaatkan tools ini adalah Tupperware dan Amway.
Perangkat utama Penjualan Langsung adalah iklan yang bersifat respon langsung (direct response) dimana produk dipromosikan melalui iklan dan mendorong konsumen untuk langsung membeli dari perusahaan / pabrik (bukan melalui toko atau distributor). Umumnya berupa pencantuman formulir pemesanan di iklan, ajakan untuk menelpon saat itu juga atau penggunaan kupon dengan waktu terbatas.
Pertumbuhan kartu kredit, layanan pemesanan via telepon toll free dan internet merubah proses dari iklan – respon langsung (direct response ad) dan mempercepat pertumbuhan direct marketing. Pemasar perusahaan telah lama mengandalkan direct marketing dan memegang peranan penting dalam IMC untuk product consumer maupun B2B. Contoh-contoh penerapan direct marketing antara lain:

a.    Telemarketing
b.    Direct Mail
c.     Iklan baik di media cetak maupun elektronik dengan penyertaan formulir pemesanan
d.    Product sampling

Menggunakan sistem loop tertutup, ineraktif, dan pengiriman pesan yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku konsumen.Sistem penjualan langsung tersebut digunakan untuk menciptakan respon konsumen secara langsung.

3.     Sales promotion (promosi penjualan)
Merupakan aktfitas pemasaran yang menyediakan nilai tambah atau memberikan insentif pada tenaga pemasar, distributor atau konsumen yang ditujukan untuk mendorong penjualan dengan cepat. Ada 2 jenis promosi penjualan:
  • Promosi penjualan berorientasi Konsumen: ditargetkan untuk konsumen (pengguna) dalam bentuk kupon, sampling, hadiah, rabat, kontes dll
  • Promosi penjualan berorientasi Dagang: ditargetkan untuk penyalur, pengecer atau distributor dalam bentuk bonus, harga khusus, kontes penjualan dll
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan yang menggeser anggarannya dari strategi iklan menjadi promosi penjualan. Pertimbangannya adalah karena menurunkan brand loyalty dan meningkatkan sensifititas konsumen terhadap penawaran-penawaran promosi dari pesaing.

Promosi dan Promosi Penjualan merupakan 2 istilah yang sering membingunkan dalam dunia pemasaran. Promosi merupakan elemen pemasaran dimana perusahaan berkomunikasi dengan konsumen. Sedangkan Promosi Penjualan merupakan strategi pemasaran untuk meningkatkan penjualan langsung dalam jangka pendek.

Promosi penjualan merupakan fungsi dari marketingkomunikasi yang memperbesar aksi dengan menambahkan insentif dalam menawarkan merek. Promosi penjualan didesain untuk jangka pendek dan dikatakan berhasil apabila dalam waktu singkat berhasil untuk meningkatkan dan mempercepat jumlah penjualan produk. Promosi penjualan terbagi menjadi berorientasi pada konsumen dan berorientasi pada penjualan. Berorientasi pada konsumen adalah bentuk promosi penjualan yang didesain untuk memengaruhi pembeli atau pengguna. Berorientasi pada penjualan adalah bentuk promosi penjualan yang didesain untuk memengaruhi konsumen melalui pedagang besar (wholesaler), distributor, dan pedagang kecil (retailer)

4.     Point of purchase promotion(komunikasi di tempat pembelian)
Titik pembelian (Point-of-Purchase (P-O-P)) adalah kegiatan untuk menampilkan produk di tempat-tempat strategis di sebuah toko dengan tujuan untuk menarik perhatian konsumen terhadap merek tersebut.Komunikasi di tempat pembelian melibatkan peraga, poster, tanda dan berbagai materi lain yang didesain untuk mempengaruhi keputusan untuk membeli di tempat pembelian. Secara ringkas manajer komunikasi pemasaran mempunyai berbagai alat komunikasi yang dapat mereka gunakan. Pentingnya alat-alat ini dan aplikasinya secara spesifik tergantung kepada situasi yang harus dihadapi suatu perusahaan dalam suatu perusahaan.

Artikel ini ditulis oleh () Mahasiswi Prodi Perbankan Syariah IAIN Pontianak angkatan 2014

Daftar pustaka

https://www.kliksaja.net/pengertian-hard-selling-dan-soft-selling-dunia-marketing/. Diakses pada tanggal 8 mei 2017 pukul 19.50 WIB.

Hughes, Graham; Fill, Chris. Marketing Communications 2005-2006. Elsevier – Butterworth Heinemann: Oxford. 2005

Kothler, Philip, Marketing management. New Jersey: Pearson Education, 2006

Saturday, October 28, 2017

Tradisi Teori Komunikasi Kritis


Teori Tradisi Kritis (The Critical Tradition) menganggap Komunikasi Sebagai Hasil dari Perefleksian Sebuah Wacana.
Apakah yang dimaksud dengan teori Tradisi Kritis (The Critical Tradition)?
Tradisi Kritis dalam komunikasi memang termasuk sulit untuk dikelompokan dalam satu varian teori. Wood (2004) mengelompokan dalam satu tema dengan judul critical communication theories yang meliputi teori feminis (feminist theory), teori kelompok bungkam (muted group theory), dan teori budaya (cultural theory). Little John dan Foss (2009) menempatkan tradisi kritis dalam komunikasi pada teori-teori tentang pelaku komunikasi, percakapan, kelompok, organisasi, media, dan budaya dan masyarakat.
Tradisi ini berangkat dari asumi teori-teori kritis yang memperhatikan terdapatnya kesenjangan di dalam masyarakat. Proses komunikasi dilihat dari sudut kritis. Bahwa komunikasi disatu sisi telah ditandai dengan proses dominasi oleh kelompok yang kuat atas kelompok masyarakat yang lemah. Pada sisi lain, aktifitas komunikasi mestinya menjadi proses artikulasi bagi kepentingan
kelompok masyarakat yang lemah.
Beberapa figur penting dapat disebut seperti Karl Marx, Noam Chomsky, Herbert Schiller, Ben Bagdikian, C. Wright Mills, dan sebagainya yang pemikiran mereka menyoroti tentang media. Tradisi Kritis memiliki keragaman (Little John dan Foss, 2009), Varian dari Tradisi ini di antaranya adalah:
1.             Marxisme,
Marxisme merupakan peletak dasar dari tradisi kritis ini. Marx mengajarkan bahwa ekonomi merupakan dasar dari segala struktur sosial. Kritik Politik ekonomi, pandangan ini merupakan revisi terhadap Marxisme yang dinilai terlalu menyederhanakan realitas kedalam dua kubu yaitu kalangan penguasa dan kalangan tertindas berdasarkan kepentingan ekonomi. Marx mengajarkan bahwa cara-cara produksi dalam masyarakat menentukan sifat masyarakat. Oleh karena itu, ekonomi adalah dasar dari semua struktur sosial. Dalam system kapitalis, keuntungan mendorong produksi, suatu proses yang berakhir dengan menekan buruh atau pekerja. Hanya ketika pekerja menentang kelompok-kelompok dominan, cara-cara produksi dapat diubah dan kebebasan pekerja dapat dicapai. Kebebasan tersebut memajukan perkembangan sejarah secara alami. Ketika kekuatan-kekuatan oposisi bersinggungan dalam dialektik yang menghasilkan peringkat social yang lebih tinggi. Teori marxis klasik ini dinamakan the critique of political economy.
Saat ini, teori kritik marxis sangat berkembang, meskipun teori ini telah bercabang dan multiteoretis. Beberapa ahli teori kritik saat ini dengan senang hati mengadopsi ide-ide Marx pada ekonomi politik, meskipun perhatian dasar akan konflik dialektik, dominasi, dan penindasan tetap penting. Teori kritik saat ini sering dinamakan “neo marxis” atau “marxis”. Berbeda dengan model materialis marxisme sederhana, kebanyakan teori-teorikritik kontemporer melihat proses-proses sosial sebagai overdetermined atau diakibatkan oleh sumber-sumber yang banyak. Mereka melihat struktur sosial sebagai sistem didalamnya terdapat banyak factor yang berinteraksi dan memengaruhi satu sama lain.
2.           Aliran Frankfurt,
Aliran Frankfurt memperkenalkan bahwa aliran kritis mampu menawarkan suatu interkoneksi dan pengujian yang menyeluruh tentang perubahan bentuk dari masyarakat, kultur ekonomi, dan kesadaran.
Frankfurt School adalah cabang kedua dari teori kritik dan faktanya sangat bertanggung jawab terhadap kemunculan istilah critical theory; Frankfurt School masih sering digambarkan sebagai persamaan dengan istilah teori kritik (critical theory). Frankfurt School mengacu kepada kelompok filsuf Jerman, sosiolog, dan ekonom Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Mercuse adalah
diantara anggota-anggota yang paling terkenal dihubungkan dengan Institute for Social Research yang didirikan di Frankfurt pada tahun 1923.
Pengikut aliran ini percaya bahwa demi kebutuhan akan integrasi di antara kajian khususnya filosofi, sosiologi, ekonomi, dan sejarah untuk mempromosikan filosofi sosial yang sangat luas atau teori kritik yang mampu menawarkan pengujian yang komprehensif akan kontradiksi dan interkoneksi dalam masyarakat. Frankfurt School merupakan Marxis dalam inspirasinya; pertama, pengikutnya melihat kapitalisme sebagai tahap evolusi perkembangan sosialisme dan kemudian komunisme. Bagaimanapun juga, kegagalan pergerakan pekerja dan kemunculan Fasisme, mengarahkan banyak pengikut Frankfurt School mengabaikan kepercayaannya akan proletar sebagai agen revolusi karena alasan dan kepintaran mereka. Sebagai hasilnya, Frankfurt School telah dikritik karena paham elitnya, kebencian terhadap budaya pop, dan pembebasan aktivisme demi intelektualisme.
Dengan munculnya Partai Sosialis Nasional (Nazi) di Jerman pada tahun 1930-an, banyak akademi Frankfurt berimigrasi ke Amerika yang membangun institusi untuk penelitian sosial di Universitas Kolombia. Sementara di Amerika, mereka sangat tertarik dengan komunikasi massa dan media sebagai struktur penekan dalam masyarakat kapitalis. Komunikasi mulai menjadi penting bagi teori kritik dan kajian komunikasi massa menjadi lebih penting. Akademisi Frankfurt kontemporer yang paling terkenal adalah Jurgen Habermas yang teorinya meneruskan penilaian terhadap alas an dan meminta untuk mengembalikan ide-ide rasional dari periode Pencerahan atau modern.
Teori kritik berada dalam paradigma modernis. Entah itu intelektual atau pandangan populer, ada sebuah kepercayaan pada alas an yang dibangun melalui ilmu pengetahuan, bahwa individu sebagai agen perubahan dan penemuan aspek-aspek budaya yang cuma-cuma. Keempat cabang tambahan yang dapat dikelompokkan dengan teori kritik yang melanggar modernitas dengan cara yang beragam: post-modernisme, post-kolonialisme, post-strukturalisme, dan kajian feminis. Apa yang umumnya dimiliki dari filosofis ini merupakan sebuah desakan pada keragaman dan ketidakstabilan makna, ketidakpercayaan terhadap ilmu pengetahuan, dan keengganan memberikan kepercayaan demi cerita yang hebat.
3.           Posmodernisme,
Posmodernisme ditandai dengan sifat relativitas, tidak ada standarisasi nilai, menolak pengetahuan yang sudah jadi dan dianggap sebagai sesuatu yang sakral.
Post-modernisme dalam pengertian yang paling umum diberi tanda oleh perpecahan dengan modernitas dan proyek pencerahan. Bertepatan dengan akhir dari masyarakat industri dan munculnya sebuah zaman informasi, dengan produksi barang-barang yang telah diberi jalan untuk memproduksi dan memanipulasi pengetahuan.
Bermula pada tahun 1970-an, post-modernisme menolak “elitisme, puritanisme, dan sterilitas” rasional karena pluralisme, relativitas, kebaruan (novelty), kompleksitas, dan kontradiksi. Kontribusi Jean-Francois Lyotard terhadap post-modernitas merupakan penolakan terhadap cerita-cerita hebat
tentang kemajuan tidak ada lagi kisah-kisah yang diceritakan yang masuk akal dalam suatu budaya.
Kontribusi Jean Baudrillard adalah penekanan pada peningkatan pemisahan tanda dari sesuatu yang ditunjuknya. Simulasi telah berlalu setelah dilakukan dan tanda-tanda diproduksi ulang pada suatu tingkat di mana mereka tidak lagi mengacu pada objek nyata dalam dunia materi. Kedua ajaran tersebut memunculkan pertanyaan terhadap penamaan-penamaan tradisional akan “ realitas”; apakah “cerita-cerita tentang budaya tidak dapat dipercaya dan konstruksi-konstruksi buatan untuk tanda-tanda selalu dianggap lebih nyata dibandingkan tanda itu sendiri, realitas merupakan konstruksi yang terus berubah dan cepat berlalu.
4.             Cultural studies
Cultural studies memusatkan pada perubahan sosial dari tempat yang menguntungkan dari kultur itu sendiri. 
Karya dari tradisi kritik yang dikenal sebagai Cultural Studies selalu dihubungkan dengan ragam post-modernisme dalam tradisi kritik. Sebagai tradisi yang terlepas dari tradisi, kajian-kajian budaya tampak sebagai cabang penting post-modernisme pada tradisi kritik. Para ahli kajian budaya sama-sama membahas ideology yang mendominasi sebuah budaya, tetapi memfokuskan pada perubahan sosial dari hal yang menguntungkan di dalam budaya itu sendiri:
“Untuk mempermudah pergerakan budaya seperti yang telah diperlihatkan dalam kehidupan sosial, hubungan kelompok dan kelas, institusi dan politik, serta ide dan nilai."
Penggabungan antara-ilmu dimulai di Centre for Contemporary Cultural Studies di Birmingham, Inggris tahun 1964. Dengan berfokus pada budaya sebagai penelitian yang umum dan bermanfaat, institusi ini telah menyediakan susunan subjek dan subkultur untuk kajian akademis yang biasanya dianggap tidak sesuai bagi perhatian akademis. Oleh karena itu, kajian-kajian budaya sangat populer dalam pengenalan yang bertolak belakang dengan ketidakjelasan pemahaman akan Frankfurt School.
Kemungkinan mempelajari semua bentuk subkultur yang biasanya tidak dipelajari dalam lingkungan akademik akan meningkatkan kajian budaya yang sangat berpengaruh bagi ilmu pengetahuan kontemporer kajian-kajian konsep yang awalnya dipinggirkan, seperti gender, ras, kelas, umur, dan yang terbaru, seksualitas.
Hal ini tidak mesti dikatakan bahwa topik-topik tersebut tidak dipelajari sebelum perkembangan teori budaya faktanya, setiap ilmu melihat kemunculan permasalahan ini dari keragaman dasar histories dan teoretis. Bagaimanapun juga, nilai-nilai kajian budaya yang umum dan dipinggirkan menjadi pendorong utama dibalik minat ilmiah yang berkelanjutan pada permasalahan tersebut.
5.             Post Strukturalis
Post strukturalis adalah pandangan yang memandang realitas merupakan sesuatu yang komplek dan selalu dalam proses sedang menjadi. 
Post-strukturalisme biasanya dikonsepkan sebagai bagian dari proyek post-modern karena post-strukturalisme mengolah usaha modern dalam menemukan kebenaran-kebenaran universal, naratif, metode, dan makna yang digunakan untuk mengenal dunia. Awal mula post-strukturalisme dikaitkan pada karya tulis Jaques derrida tahun 1966 dan inti post-strukturalisme adalah penolakan akan universalisasi makna yang ditentukan oleh desakan-desakan struktural, kondisi-kondisi, dan simbol yang tetap.
Malahan, para ahli di dalam tradisi post-strukturalisme menghubungkan pendekatan histories dan sosial terhadap sifat dunia serta manusia yang masing-masing maknanya ditentukan dalam produksi dinamis dan mencair serta pengaruh spesifik dari simbol-simbol untuk momen bersejarah.
Penganut post-strukturalisme mengkhawatirkan perbedaan di antara orang-orang daripada cerita-cerita besar yang biasa mereka miliki dan perbedaan-perbedaan ini berperan dalam kehidupan setiap individu. Penolakan pada pandangan tetap dan tradisional terhadap tanda-tanda, simbol-simbol, dan makna yang dimiliki oleh post-strukturalisme menempatkannya dalam bidang teori komunikasi.
Sebagai tambahan, Jaques Derrida, Jean Baudrillard, Rolland Barthes, dan Richard Rorty lebih dikenal dengan penganut post-strukturalisme. Beberapa aspek dari karya Michel Foucault sangatlah post-strukturalis; yang lainnya sangat bergantung pada elemen-elemen strukturalis. Untuk alasan ini, beberapa orang menganggapnya sebagai post-strukturalis dan yang lainnya tidak.
6.           Post Colonial
Post Colonial mengacu pada semua kultur yang dipengaruhi oleh proses imperial dari masa penjajahan sampai saat ini.
Berikutnya, teori post-kolonialisme mengacu pada kajian “semua kebudayaan dipengaruhi oleh proses kekaisaran dari era kolonialisasi sampai hari ini". Inti dari teori post-kolonialisme adalah gagasan yang dikemukakan oleh Edward Said bahwa proses penjajahan menciptakan “kebedaan” yang bertanggung jawab bagi gambaran yang distereotipkan pada populasi bukan kulit putih.
Teori Said merupakan proyek kritik dan post-modern yang bukan hanya menggambarkan proses kolonialisasi dan keberadaannya untu mengintervensi “emancipatory political stance.” Post-kolonial juga merupakan sebuah proyek post-modern dalam mempertanyakan bahwa hubungan histories, nasional dan geografis, serta penghapusan dibuat eksplisit dalam wacana. Kemudian, pakar post-kolonial mengkaji isu-isu yang sama sebagaimana yang dikaji oleh kajian budaya dan kritik, ras, kelas, gender, seksualitas tetapi semuanya disituasikan “dalam susunan geopolitik dan hubungan Negara-negara serta sejarah antarnegara merdeka”.
7.           Kajian Feminis
Kajian feminis tidak sekedar menawarkan kajian gender. Feminis berusaha menawarkan teori-teori yang memusatkan pada pengalaman perempuan dan untuk membicarakan kategori-kategori gender dan sosial lainnya, termasuk ras, etnis, kelas, dan seksualitas. Kajian feminis dalam komunikasi misalnya bagaimana praktik komunikasi berfungsi menyebarkan ideologi-ideologi gender yang dimediasi oleh wacana.
Akhirnya, kajian feminis telah bertahun-tahun berpengaruh dalam tradisi kritik. Feminisme didefinisikan secara beragam, mulai dari pergerakan untuk menyelamatkan hak-hak wanita sampai semua bentuk usaha penekanan. Dengan demikian, sekarang para ahli lebih suka membahas feminisme secara plural daripada secara singular.
Para ahli feminisme memulainya dengan fokus pada gender dan mencari perbedaan antara seks sebuah kategori biologis dan gender sebuah konstruksi sosial. Mereka telah menguji, mengkritik, dan menentang asumsi, serta mengalami maskulinitas dan feminitas yang meliputi semua aspek kehidupan, sebagai usaha untuk memperoleh cara-cara yang lebih memberi kebebasan pada wanita dan pria supaya diakui di dunia.
Akan tetapi, penelitian feminis lebih dari sekedar kajian gender, feminis berusaha menawarkan teori-teori yang memusatkan pada pengalaman wanita dan untuk membicarakan hubungan antara kategori-kategori gender dan sosial lainnya, termasuk ras, etnik, kelas, dan seksualitas.
Hal yang paling terkini, kajian tentang bagaimana praktik komunikasi berfungsi menyebarkan ideology-ideologi gender yang dimediasi wacana menjadi mengemukan dan mereflesikan variabilitas kajian budaya dalam ilmu komunikasi. Bukti lainya yang cukup signifikan adalah kajian contoh-contoh positis gaya komunikasidan pratiknya yang dapat memberikan model untuk bagaimana mecapai perubahan yang sesuai dengan nilai-nilai penganut paham fiminisme (Amanda dan Nasution, 2017 dalam www.dicto.id. (Lihat juga www.filsafat.kompasiana.com).
Artikel ini ditulis oleh Handes Akademisi Ilmu Komunikasi Universitas Tanjungpura. 

Source Review:
Gatot Anwar Nasution dalam www.dicto.id. 2017
Karla Amanda dalam www.dictio.id 2017
Littlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. 2009. Teori Komunikasi, edisi 9. Jakarta: Salemba Humanika.
Wood, Julia T. 2004. Gendered Lives: Communication, Gender, and Culture. Fifth edition, New York:Wadsworth
www.folsafat.kompasiana.com























































































































http://filsafat.kompasiana.com

Friday, October 27, 2017

Teori Keunggulan Komparatif

Nur Fitriah Andriani, Surabaya 2015

A.        Konsep Keunggulan Komparatif
Konsep perdagangan bebas pertama kali dirumuskan oleh Adam Smith yang kemudian dikembangkan oleh David Ricardo pada tahun 1887 (Pressman, 1999). Masa itu adalah zaman negaranegara Eropa melakukan penjajahan dan ahli-ahli ekonomi di Negara tersebut sedang berdebat sengit antara pro dan kontra tentang peran pemerintah dalam perdagangan. Ricardo adalah salah seorang ekonom yang tidak menyetujui kebijakan pemerintah dalam pembatasan perdagangan. Menurut Ricardo, alasan utama yang mendorong perdagangan internasional adalah perbedaan keunggulan komaparatif relatif antar Negara dalam menghasilkan suatu komoditas.
Suatu Negara akan mengekspor komoditas yang dihasilkan lebih murah dan mengimpor komoditas yang dihasilkan lebih mahal dalam penggunaan sumber daya (Lindert and Kindleberger, 1983). Perdagangan internasional semacam itu akan mendorong peningkatan konsumsi dan keuntungan. Sebaliknya kebijakan pembatasan perdagangan oleh pemerintah justru memberikan kerugian yang lebih besar bagi masyarakat dalam negeri dibandingkan manfaat yang diperoleh.
1.         Berdasarkan hal-hal di atas, munculnya Teori Keunggulan Komparatif yang digagas oleh David Ricardo. Keunggulan komparatif ini oleh Ricardo dan Viner disebabkan oleh adanya perbedaan dalam kepemilikan atas faktor-faktor produksi seperti: sumber daya alam, modal, tenaga kerja dan kemampuan dalam penguasaan teknologi (Anderson, 1995: 71-73). Adapun asumsi yang dikemukakan oleh David Ricardo adalah sebagai berikut:
  1. Hanya ada 2 negara yang melakukan perdagangan internasional.
  2. Hanya ada 2 barang (komoditi) yang diperdagangkan.
  3. Masing-masing negara hanya mempunyai 1 faktor produksi (tenaga kerja)
  4. Skala produksi bersifat “constant return to scale”, artinya harga relative barang-barang tersebut adalah sama pada berbagai kondisi produksi.
  5. Berlaku labor theory of value (teori nilai tenaga kerja) yang menyatakan bahwa nilai atau harga dari suatu barang (komoditi) dapat dihitung dari jumlah waktu (jam kerja) tenaga kerja yang dipakai dalam memproduksi barang tersebut.
  6. Tidak memperhitungkan biaya pengangkutan dan lain-lain dalam pemasaran.

Melalui spesialisasi sesuai dengan keungggulan komparatifnya, maka jumlah produksi yang dihasilkan bisa jauh lebih besar dengan biaya yang lebih murah dan pada akhirnya bisa mencapai skala ekonomi yang diharapkan. Pemikiran ini kemudian berkembang bahwa akan lebih menguntungkan jika arus perdagangan antara negara dibebaskan, tidak terhambat oleh kebijakan atau peraturan negara baik berupa proteksi, tarif maupun non-tarif seperti pada penjelasan paragraph di atas.
Berdasarkan pemikiran ini, dirumuskan aturan perdagangan multilateral yang kemudian menjadi satu produk hukum internasional. Namun demikian negara-negara tersebut akan terikat dengan kepentingan nasionalnya yang menurut Morgenthau merujuk pada hal-hal yang dianggap penting bagi suatu negara, sehingga merujuk pada sasaran-sasaran politik, ekonomi, atau social yang ingin dicapai suatu negara (Viooti, 1993: 584). Sehingga negara perlu memberikan prioritasnya yang diformulasikan dalam sasaran dan indikator bagi tercapainya kepentingan tersebut.
Untuk mewujudkan kepentingan nasionalnya suatu negara harus memanfaatkan keunggulan komperatif guna meraih peluang dan mengurangi atau meniadakan kendala yang timbul sebagai konsekuensi logisnya. Keunggulan komparatif yang harus dimiliki suatu negara untuk dapat memenangkan dan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional antara lain
1.         Jumlah tenaga kerja yang relatif banyak.
2.         Sumber daya alam yang melimpah.
3.         Sumber modal yang besar.
4.         Kemampuan dan penguasaan ilmu pengetahuan teknologi yang tinggi
5.         Letak geografis yang cukup strategis.
6.         Potensi pasar domestic/ dalam negeri yang cukup besar.
7.         Jumlah pengusaha kecil, menengah dan koperasi yang besar.
8.         Sektor agrobisnis yang mengandalkan lahan produktif yang luas

B.        Upaya Optimasi Keunggulan Komparatif di Indonesia
Pemerintah perlu mengoptimalkan keunggulan komparatif Indonesia untuk menumbuh kembangkan industri berbasis sumber daya lokal yang berdaya saing tinggi di pasar internasional. Kecepatan dan ketepatan pemerintah mengidentifikasi industri yang kompetitif dan memfasilitasi perkembangannya dapat memacu pertumbuhan jangka panjang ekonomi nasional. Kepala Ekonom Bank Dunia Justin Yifu Lin menyampaikan hal itu di Jakarta, Selasa (28/6), saat bertemu Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, pengusaha, dan Komite Ekonomi Nasional dalam kunjungan dua hari di Indonesia.Indonesia dapat menjadi pusat pertumbuhan besar tahun 2025. Bahkan, Indonesia diprediksi menjadi salah satu dari enam negara dengan kontribusi separuh pertumbuhan ekonomi global.
Akan tetapi, sebelum mencapai titik tersebut, pemerintah harus lebih intens membenahi upaya dalam mencapai target yang dibuat dalam sektor dengan keuntungan komparatif itu.”Indonesia adalah negara dengan banyak keuntungan, misalnya, sumber daya alam, angkatan kerja berpendidikan yang besar, sektor swasta yang bergairah, dan pasar domestik yang besar. Kemampuan Indonesia membangun industri otomotif adalah contoh keberhasilan Indonesia mengelola potensinya sehingga bisa mengekspor ke negara lain,” ujarnya. Contoh lainnya adalah Indonesia mengimpor kapas dari Amerika Serikat untuk diproduksi menjadi tekstil dan produk tekstil. Produk tersebut kemudian diekspor kembali ke Amerika Serikat. Angkatan kerja yang besar menjadikan Indonesia memiliki keunggulan komparatif di industri padat karya.”Pemerintah perlu membenahi berbagai persoalan yang menyelimuti iklim investasi industry padat karya untuk mengembangkan industri lokal, menjaga pertumbuhan pendapatan, dan mengurangi kemiskinan,” ujar Justin.”Indonesia adalah negara dengan berbagai keunggulan, di antaranya angkatan kerja yang besar dan cukup terdidik, komunitas bisnis yang dinamis, dan secara geografis dekat dengan beberapa sentra pertumbuhan. Industri otomotif adalah contoh baik bagaimana semua keunggulan tersebut kemudian mendukung satu sektor yang tepat,” kata Justin.”Mengikuti keunggulan komparatif adalah cara terbaik untuk memperluas industri lokal, mempertahankan pertumbuhan pendapatan, dan mengurangi kemiskinan,” katanya (HAM).
Kelemahan Teori Keunggulan Komparatif
Beberapa kelemahan teori klasik comparative advantage:
1.         Dalam penerapannya dapat menimbulkan ketergantungan dari Negara Dunia Ketiga terhadap negara-negara maju karena keterbelakangan teknologi. Fakta lain, saat ini negara-negara maju pun bisa membuat sendiri apa yang menjadi spesialisasi negara berkembang.
2.         Akibat perbedaan fungsi produksi (tenaga kerja) menimbulkan perbedaan produktivitas ataupun perbedaan efisiensi diantara Negara-negara sehingga terjadilah perbedaan harga.
3.         Perdagangan internasional tidak akan terjadi jika faktor produksi atau efisiensi di kedua negara sama karena harga barang yang sejenis akan menjadi sama pula di kedua negara. Kenyataannya, walaupun fungsi faktor produsi sama di kedua negara, ternyata harga barang sejenis dapat berbeda, sehingga perdagangan internasional tetap dapat terjadi. Dalam hal ini teori klasik tidak dapat menjelaskan mengapa dapat terjadi perbedaan harga diantara kedua negara walaupun fungsi faktor produksi sama.
4.         Teori modern dari Heckscher - Ohlin dapat menjelaskan mengapa perdagangan internasional tetap dapat terjadi walau terdapat kesamaan dalam faktor produksi diantara kedua negara.

C.        Teori Keunggulan Kompetitif
1.         Konsep Keunggulan Kompetitif
Teori Porter tentang daya saing nasional berangkat dari keyakinannya bahwa teori ekonomi klasik yang menjelaskan tentang keunggulan komparative tidak mencukupi, atau bahkan tidak tepat. Menurut Porter, suatu negara memperoleh keunggulan daya saing/competitive advantage (CA) jika perusahaan (yang ada di negara tersebut) kompetitif. Daya saing suatu negara ditentukan oleh kemampuan industri melakukan inovasi dan meningkatkan kemampuannya. Perusahaan memperoleh (CA) karena tekanan dan tantangan. Perusahaan menerima manfaat dari adanya persaingan di pasar domestik, supplier domestik yang agresif, serta pasar lokal yang memiliki permintaan tinggi.
Perbedaaan dalam nilai-nilai nasional, budaya, struktur ekonomi, institusi, dan sejarah semuanya memberi kontribusi pada keberhasilan dalam persaingan. Perusahaan menjadi kompetitif melalui inovasi yang dapat meliputi peningkatan teknis proses produksi atau kualitas produk. Selanjutnya Porter mengajukan Diamond Model (DM) yang terdiri dari empat determinan (faktor – faktor yang menentukan) National Competitive Advantage (NCA). Empat atribut ini adalah: factor conditions, demand conditions, related and supporting industries, dan firm strategy, structure, and rivalry.
Michael Porter dalam teorinya menggambarkan bagaimana sebuah bisnis dapat membangun keunggulan kompetitif yang berkesinambungan. Keunggulan kompetitif adalah kemampuan sebuah perusahaan dalam memberi nilai tambah pada produk yang ditawarkan kepada konsumennya, lebih dari yang ditawarkan produk lain atau dari yang ditawarkan oleh kompetitornya.
Menurut pandangan Porter, kekayaan nasional terkait erat dengan “peningkatan” keunggulan kompetitif. Pada awalnya suatu bangsa mencoba mengeksploitasi kondisi-kondisi faktor-faktornya untuk mendorong laju pembangunannya. Pada tahap berikutnya bangsa tersebut mulai menarik teknologi asing dan mengadakan investasi dalam peralatan modal, sambil mendorong lebih banyak tabungan. Industri-industri yang padat karya dan padat sumber daya diganti oleh industri yang lebih intensif teknologi. Perusahaan yang paling berhasil mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi melalui diferensiasi produk dan jasa. Perusahaan-perusahaan ini memusatkan perhatiannya pada kegiatan ilmu pengetahuan di luar negeri.
Pada tahap lebih lanjut bangsa tersebut beralih ke inovasi sebagai pengendali utama kekayaan nasionalnya. Apabila berhasil, bangsa tersebut akan bergerak ke tahap berikutnya lagi yang ditandai oleh upaya untuk mengelola dan memelihara kekayaan yang ada. Kegiatan investasi dan inovasinya bisa mengendur dan keunggulan kompetitif bangsa tersebut mulai terkikis. Daya saing nasional ini tidak terlepas dari daya saing perusahaan-perusahaan atau industry yang ada di dalam negara atau wilayah yang bersangkutan dalam berkompetisi dan menggerakkan kegiatan ekonominya. Kompetisi dalam suatu industri ditentukan oleh struktur dari masing-masing industri. Struktur industri mengarah pada hubungan antara lima kekuatan yang mengendalikan perilaku perusahaan dalam berkompetisi di suatu industri. Bagaimana perusahaan berkompetisi dengan industri lainnya secara langsung berhubungan dengan lima kunci kekuatan yang dikembangkan oleh Michael Porter sebagai berikut:
  • Ancaman Pendatang Baru dalam Industri

Profitabilitas perusahaan cenderung tinggi ketika perusahaan lainnya terhalangi untuk memasuki industri. Pendatang baru dapat mengurangi profitabilitas industri karena mereka menambah jumlah produksi dan dapat secara substansial mengikis posisi keberadaan pasar yang sudah ada. Oleh karena itu, untuk mengurangi pendatang baru, perusahaan yang ada dapat membangun halangan untuk memasuki industri, yakni dalam bentuk : (1) persyaratan modal untuk masuk dalam industri, (2) skala ekonomi industri yang ada saat ini, (3) diferensiasi produk yang dilakukan oleh industri yang ada saat ini, (4) biaya pengganti untuk mempengaruhi pembeli beralih dari industri yang ada saat ini, (5) indentitas merek dari produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan yanga ada saat ini di benak konsumen, (6) Ketersediaan akses untuk saluran distribusi, (7) Keyakinan untuk mendapatkan kemanfaatan yang berlanjut dari produk atau jasa yang ditawarkan kepada konsumen oleh industri yang ada saat ini.

  • Posisi Tawar Pelanggan

Pelanggan produk atau jasa suatu industri dapat menekan perusahaan yang ada untuk mendapatkan harga yang rendah atau pelayanan yang lebih baik dari penyedia (industri) apabila: (1) pelanggan memiliki pengetahuan yang baik tentang kualitas produk dan memiliki informasi yang cukup mengenai produk atau jasa yang ditawarkan sehingga dapat mengevaluasi produk atau jasa tersebut dengan penjual lainnya. (2) Ukuran pembelian yang dilakukan oleh pelanggan (banyaknya uang yang digunakan pelanggan untuk membeli produk atau jasa yang ditawarkan), (3) kurang dirasakannya fungsi produk bagi pelanggan (kemanfaatan produk), (4) jumlah pelanggan lebih terkonsentrasi daripada jumlah penyedia produk atau jasa (oligopsoni). Pelanggan juga memiliki posisi tawar lebih kuat ketika produk dan jasa yang dtawarkan oleh industri cenderung homogen atau standar (tidak ada perbedaan antara satu dan yang lainnya) sehingga membutuhkan biaya yang rendah untuk mengganti ke pemasok lain, dan ketika pelanggan juga dapat masuk ke dalam industri dimana mereka biasanya melakukan pembelian (membuat sendiri produk yang biasa dibelinya).
  • Posisi Tawar Pemasok (supplier)

Pemasok dapat mempengaruhi posisi tawar apabila: (1) produk mereka krusial (penting) bagi pelanggan, (2) mereka dapat memasang harga tinggi untuk biaya penggantian (peralihan ke pemasok lain), (3) Mereka lebih terkonsentrasi dariapada jumlah pelanggan. Pemasok juga memiliki posisi tawar yang tinggi ketika dengan mudah mereka dapat masuk ke dalam industry dimana mereka biasanya memasok produk atau jasa mereka (membuat industri untuk menjual produk yang dihasilkannya sendiri).
  • Intensitas Persaingan Antara Perusahaan dalam Industri

Tingkat persaingan antar perusahaan yang sudah ada saat ini adalah determinan penting ketertarikan industri dan profitabilitas. Intensitas persaingan dapat mempengaruhi biaya pasokan, distribusi dan ketertarikan pelanggan, dan kemudian secara langsung mempengaruhi profitabilitas. Persaingan antar perusahaan cenderung saling mematikan dan profitabilitas industri rendah apabila: (1) Tidak adanya pemimpin yang jelas dalam pasar (keseimbangan kekuatan antara perusahaan dalam pasar), sehingga dapat terjadinya perang harga antara industri yang satu dengan yang lainnya, (2) jumlah pesaing yang terlalu banyak, (3) Pesaing beroperasi dengan biaya tetap yang tinggi yang dapat memberikan motivasi untuk memaksimalkan kapasitas mereka dan cenderung memotong harga ketika mereka memiliki kelebihan kapasitas. (4) Sulitnya untuk keluar dari industri, (5) pesaing memiliki sedikit peluang untuk bisa melakukan diferensiasi produk, (6) Pertumbuhan penjualan yang rendah sehingga tingkat persaingan untuk merebut pasar sangat tinggi.
  • Potensi untuk Produk atau Jasa Pengganti

Untuk memprediksi tingkat keuntungan, perusahaan harus melihat apakah ada atau tersedianya produk yang sama di dalam pasar, atau memiliki fungsi yang sama dengan produk yang ditawarkan. Produk atau jasa pengganti dapat mengancam profitabilitas perusahaan yang ada saat ini jika mereka dapat menawarkan harga yang lebih rendah dari produk atau jasa yang ditawarkan oleh industri yang ada saat ini, atau memiliki kualitas yang lebih baik dengan harga yang sama dengan yang ditawarkan oleh industri saat ini.
Menurut Porter, strategi utamanya adalah:
  1. Biaya (cost leadership) yaitu keuntungan yang besar dengan biaya yang rendah. Keunggulan kompetitif dicapai dengan memangkas biaya sekecil mungkin. Perusahaan yang menerapkan strategi kepemimpinan biaya adalah Walmart, Suzuki, Overstock.com, dll.
  2. yaitu keuntungan yang besar dengan menambah nilai pada produk yang dignifikan kepada konsumen yang bersedia membayar dengan harga premium. Perusahaan yang menerapkan strategi diferensiasi adalah cocacola, progressive insurance, publix, dll.
  3. strategi adalah berkonsentrasi pada pasar yang terbatas. Perusahaan yang menerapkan strategi focus adalah Ritz Carlton, marriot, dan lain-lain.


2.         Kelemahan Teori Keunggulan Kompetitif
Dalam penerapan keunggulan kompetitif dalam dunia perdagangan tidak selalu berjalan baik-baik saja, akan tetapi akan selalu mengalami hambatan-hambatan. Hambatan-hambatan tersebut yang menjadi kelemahan dalam penerapa teori ini, penjelasannya sebagai berikut:

  • Ancaman dari produk-produk pengganti

Produk pengganti secara fungsional mempunyai manfaat yang serupa dengan produk utama (asli), namun memiliki kualitas produk dan harga yang lebih rendah. Umumnya, produk pengganti disenangi oleh orang yang berpenghasilan rendah, tetapi ingin tampil dengan status lebih tinggi dari keadaan sebenarnya. Ancaman dari produk-produk pengganti yang dimaksud di sini adalah seberapa mudah pelanggan/konsumen produk kita dapat berpindah ke produk pengganti.
  • Ancaman dari pendatang baru

Pendatang baru yang dimaksud di sini adalah perusahaan yang memasuki industri, dengan membawa kapasitas baru dan ingin memperoleh pangsa pasar yang baik dan keuntungan. Masuknya pesaing baru ke pasar juga akan melemahkan kekuatan kita.
  • Persaingan Industri

Persaingan konvensional terjadi di mana setiap perusahaan selalu berusaha sekeras mungkin untuk merebut pangsa pasar perusahaan lain. Konsumen merupakan obyek persaingan dari perusahaan sejenis yang bermain di pasar. Perusahaan yang dapat memikat hati konsumen akan dapat memenangkan persaingan, namun akan ada perusahaan yang kalah dalam persaingan.
  • Kekuatan Tawar dari pihak Pemasok

Ketika pemasok memiliki lebih banyak kontrol terhadap pasokan dan harganya, maka segmen pasar ini menjadi kurang menarik. Cara terbaik adalah untuk membuat hubungan menang-menang (win-win relation) dengan pemasok. Adalah ide yang baik untuk kita memiliki banyak sumber pasokan, sehingga mengurangi ketergantungan pada pemasok tertentu. Contohnya dalam industri media suratkabar, kita memerlukan pasokan kertas koran, tinta percetakan, dan jasa pencetakan itu sendiri (untuk media suratkabar yang tidak memiliki mesin cetak sendiri). Jika kertas koran hanya bisa dipasok oleh pabrik kertas tertentu, sementara oleh pemerintah tidak diizinkan untuk impor kertas koran dari luar, maka pemilik pabrik kertas bisa mendiktekan harga kertas yang dijual pada industri media surat kabar.
  • Kekuatan tawar dari pihak pembeli

Pembeli akan selalu berusaha mendapatkan produk dengan kualitas yang baik dan harga murah. Sikap pembeli semacam ini berlaku universal dan memainkan peran yang cukup menentukan bagi perusahaan. Jika harga suatu produk dinilai jauh lebih tinggi dari kualitasnya (harganya tidak mencerminkan kualitas yang sepantasnya) maka pembeli atau konsumen tidak akan membeli produk perusahaan kita.

Daftar Pustaka
Porter, M. E. Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance (1st ed.). New York, NY: Free Press. (1985).
David, F. R. Strategic Management: Concepts and Cases (13th ed.). New Jersey, NJ: Prentice Hall. 2011.




Wednesday, October 25, 2017

Tradisi Sosiopsikologis





Tradisi Teori sosiopsikologis memiliki fokus kajian pada perilaku sosial individu, variabel psikologis, efek individu, kepribadian dan sifat, persepsi serta kognisis. Pendekatan individualis menjadi cirikhas tradisi sosiopsikologis, merupakan hal umum dalam pembahasan komunikasi serta lebih luas dalam ilmu pengetahuan sosial dan perilaku. (Review Supadiyanto dalam kompasiana.com) Jadi, efek utama yang diukur adalah perubahan pendapat yang dinyatakan melalui skala sikap yang diberikan sebelum dan setelah pesan disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Jadi perhatian penting dalam tradisi sosiopsikologis antara lain perihal pernyataan, pendapat (opini), dan sikap.